Rencana Awal
Kali ini, kakiku melangkah membawaku ke luar negeri yang kucintai ini. Thailand, nama negeri itu. Suatu negara yang terletak di Asia Tenggara. Sebelah Timur berbatasan langsung dengan Laos dan Kamboja, sebelah Selatan berbatasan langsung dengan Malaysia dan Teluk Siam, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Myanmar dan Laut Andaman.
Perjalanan ke Thailand ini merupakan suatu perjalanan yang menakjubkan, bukan hanya karena ini perjalanan pertama kali gue ke luar negeri tetapi lebih ke lika-liku perjalanan ini sendiri. Dan..mungkin, lika-liku perjalanan ini merupakan jawaban dari doa gue. Ya..ketika berdoa, gue selalu memohon agar perjalanan ke Thailand ini menjadi suatu perjalanan yang bermakna, bukan hanya suatu perjalanan kosong yang gampang gue lupakan, dan itu terjadi.
Perjalanan ini dimulai dari ajakan salah satu teman kantor yang juga ikut dalam perjalanan ini, Jeffri. Dia bilang, ada promo dari maskapai penerbangan Air Asia, Jakarta-Bangkok pp 1.8 juta. Awalnya gue masih ragu, apakah itu benar-benar promo atau bukan. Setelah gue check website maskapai itu secara langsung, ternyata benar. Tanpa pikir panjang, gue langsung mengiyakan ajakan dia.
Kita berencana pergi ke Thailand bulan Mei dan ajakan itu terjadi antara bulan Februari atau Maret. Jadi, gue punya waktu 3 bulan untuk mencicil tiket itu ke Jeffri karena tiket ini dibayarin dulu oleh Danang, temannya Jeffri. Jadi, mulai saat itu, gue selalu menyisihkan gaji gue untuk mencicil pembayaran tiket itu.
Lo bisa liat bahwa dari awal, perjalanan ini adalah perjalanan yang mendadak, bagi gue. Kenapa? karena gue mengiyakan ajakan temen gue, saat itu juga, tanpa mikir dengan siapa gue pergi, kemana, dan berapa biaya hidup disana. Tapi...mendadak sepertinya sudah menjadi bagian dari hidup gue dan semuanya baik-baik saja. Kalau enggak, gue enggak akan bisa menceritakan pengalaman gue di sini :).
Semua yang terlihat tenang belum tentu seperti itu, begitu juga perjalanan ini. Hingga akhir April sampai awal Mei, semua berjalan lancar, sampai tiba-tiba datang berita mengejutkan dari Danang. H-2 atau H-1 dia datang dan memberi kabar bahwa dia tidak bisa ikut karena ada suatu masalah. Jujur, jantung gue mau copot waktu mendengar kabar itu. Tapi di satu sisi, gue senang karena gue bisa ngerasain backpacker yang sebenarnya, bahkan gue udah ngebayangin bakal nyasar-nyasar di Thailand hehehe..Ternyata, masalahnya enggak hanya itu. Karena Danang berencana tidak ikut berangkat, maka dia melakukan cancel pada tiket atas namanya, ternyata kalau melakukan cancel untuk satu orang, maka semua tiket akan secara otomatis ikut ter-cancel. Jadi..sudah bisa dipastikan bahwa perjalanan ke Thailand untuk bulan Mei gagal.
Kaget, sedih, kecewa, marah, bingung, semua perasaan itu bercampur baur. Tapi, gue ambil pelajaran dari kegagalan perjalanan ini. Pertama, gue dan teman-teman terlalu mengandalkan satu orang, padahal dalam merencanakan suatu perjalanan, sebaiknya semua pihak terlibat, semuanya harus paham akan perjalanan yang akan dilaksanakan. Kedua, gue sendiri ternyata kurang persiapan. Belum tukar uang, belum mempersiapkan tas yang cocok untuk backpacker, belum mempersiapkan baju yang cocok, dll. Ketiga, keadaan kita ternyata sedang tidak bagus. Jari gue masih diperban, Jeffri matanya masih belum membaik, dan tiba-tiba Wanda demam, dan keempat ternyata kita belum cari penginapan. Jadi, perjalanan ini memang harus gagal dan perlu diatur ulang. Dari sini gue belajar kalau mau melakukan suatu perjalanan, lo harus mempersiapkan dengan matang. Lo harus tau mau kemana, berapa budget lo, dan akan menginap dimana. Oleh karena itu, gue enggak terlalu kecewa. Lagipula, perjalanan ini bukan gagal, hanya ditunda hingga menunggu waktu yang tepat.
Juni Tiba dan Perjalanan ini dimulai
Di bulan inilah kita merencanakan berangkat ke Thailand, menggantikan perjalanan yang sempat gagal bulan lalu. Untuk perjalanan kali ini, persiapan sudah lebih matang, terutama untuk gue. Dan..tinggal menunggu tiket untuk keberangkatan tanggal 4 Juni 2013. Puji Tuhan, tiket akhirnya sudah di tangan dan kita hanya tinggal menunggu tanggal keberangkatan.
Akhirnya tiba juga tanggal yang ditunggu-tunggu. 4 Juni 2013. Yeay! Perjalanan awal ini, Danang (kembali) tidak bisa ikut karena ada suatu urusan. Ya sudah...no problemo, kita bertiga berencana naik Bus DAMRI dari Pasar Minggu ke Bandara Soetta, maklum backpacker hehehe...Untuk menuju terminal Bus Damri di Pasar Minggu, kita naik angkot 04. Sediakan uang Rp 3000, maka kamu akan tiba di depan terminal bus Pasar Minggu dengan selamat. Oh iya, sebelumnya kita sudah merencanakan untuk membawa bekal perjalanan. Arti bekal disini adalah makanan yang awet paling tidak seminggu. Akhirnya gue memutuskan untuk membeli 2 bungkus crackers manis + 1 kotak kurma, Wanda membawa satu kotak telor asin, dan Jeffri membawa 2 bungkus Abon. Bekal ini memang sengaja kita siapkan apabila terjadi sesuatu yang buruk di Thailand, ya..paling tidak kita masih bisa makan. Sampai Terminal Pasar Minggu, kita langsung dapat Bus DAMRI. Harga tiketnya Rp 25.000 dan kamu bayar di dalam bus. Jangan lupa minta tiketnya. Pada tiket itu akan tertera harga yang harus kamu bayar. Perjalanan dari Pasar Minggu - Bandara Soekarno-Hatta memakan waktu kurang lebih 1 jam.
Untuk perjalanan kali ini, kita naik pesawat dari maskapai penerbangan Mandala Airlines. Jam keberangkatan pukul 15.40 WIB, jadi kita harus tiba di Bandara Soetta minimal 1 jam sebelum keberangkatan yaitu pukul 14.40 WIB. Dan kita tiba sangat awal di bandara yaitu sekitar pukul 12.00 WIB. Penting bagi orang-orang yang baru pertama kali pergi naik pesawat untuk tahu di terminal berapa pesawatnya mendarat karena di Terminal Bandara Soetta, jarak antar terminal cukup jauh apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Untung, kita sudah mengetahui terminal keberangkatan pesawat kami yaitu di Terminal 3. Turun dari Bus DAMRI, kami langsung menuju counter Tiger Airways. Kok Tiger Airways? Ya, karena Mandala Airlines adalah partner dari Tiger Airways.
Untung di tempat kita menunggu terdapat cukup banyak stop kontak. Jadi, gue bisa men-charge power bank dan handphone. Lumayan...Selama menunggu, kegiatan kita adalah foto-foto.Khas orang Indonesia banget deh. Tiba-tiba gue baru ingat kalau gue punya crackers manis. Gue buka, gue makan, dan gue tawarkan ke teman-teman. Laku juga ternyata cemilan gue. Habis makan seharusnya minum air, tapi karena air minum enggak boleh dibawa masuk, jadilah gue haus. Sayangnya, enggak ada air mineral dijual di tempat itu. Hanya ada mesin penjual minuman panas seharga Rp 5000. Didorong rasa haus dan norak, gue pun merelakan uang Rp 5000 gue keluar dari kantong. Perlu diingat bahwa mesin ini tidak menyediakan uang kembalian, jadi siapkan uang pas. Setelah memasukkan selembar lima ribu rupiah lalu memilih minuman yang lo inginkan, tunggu sebentar dan...keluarlah segelas coklat hangat. Hm...yummy
Akhirnya datang juga pesawat menuju Bangkok, Thailand. Dengan semangat, kita segera membawa ransel menuju pesawat. Kita duduk satu jajar, sayangnya gue enggak dapat di sebelah jendela tapi di bagian paling pinggir. Ya sudahlah, paling enggak kalau mau ke toilet gampang.
Naik pesawat kita mengharapkan dapat makan siang, paling tidak cemilan. Ternyata tidak T-T. Jadilah 2 atau 3 jam kita naik pesawat dengan perut keroncongan. Semakin tersiksa ketika pramugara dan pramugari menyajikan makanan yang dijual. Wangi makanannya itu loh...Ketika di pesawat, kita dibagikan kartu imigrasi yang harus diisi antara lain identitas diri, pekerjaan, no. paspor, dll. Saran gue, lo isi kartu imigrasi itu selama di pesawat karena ketika lo tiba di bandara tujuan, kartu itu akan diminta. Daripada menghabiskan waktu mengisi di bandara tujuan sementara antrian imigrasi sudah mengular, lebih baik lo mengisi kartu tersebut selama perjalanan. Ketika pramugari mengumumkan bahwa sebentar lagi kita akan tiba di Bangkok, Thailand, kita segera melihat melalui jendela. Bangkok indah banget dilihat dari atas. Wow! Bangkok seakan-akan dikelilingi cahaya emas.
Hari Pertama
Suvarnabhumi International Airport
Sampai juga kita di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi. Hore!! Pikiran pertama yang terlintas adalah mencari tempat makan karena cacing di perut semakin berontak minta makan. Ternyata, kita enggak bisa langsung mencari makan karena antrian imigrasinya puanjaaaaaang.
Selesai urusan imigrasi, jangan lupa untuk mengambil peta gratis. Ini penting, karena di peta-peta gratis tersebut terdapat peta jalur BTS dan MRT Bangkok. Peta ini sangat membantu, terutama bagi lo yang akan menjadi backpacker. Selain itu, peta gratisan ini juga mencakup peta kota Bangkok. Membantu banget kan...makanya lo kudu mesti harus dan wajib banget ambil, lagipula gratis. Oh iya, jangan lupa untuk mengambil buku yang berisi penjelasan mengenai tempat-tempat wisata terkenal di Thailand. Setelah puas mengambil aneka macam peta, kita segera mencari tempat makan. Kalau tidak salah, tempat makan berada di lantai 3. FYI, ternyata tidak semua orang Thailand pintar berbahasa Inggris, bahkan di bandar udara internasional sekalipun. Ketika kita bertanya kepada petugas bandara, jawaban mereka sangat sederhana. Tapi, ya..paling tidak mereka mengerti bahasa Inggris dasar, seperti turn left, turn right, go down, etc.
Ketika tiba di tempat makan, entah kenapa gue langsung kenyang. Pikiran gue saat itu, gue hanya ingin mencari air mineral karena gue sangat amat haus. Harga air mineral di bandara 7 Baht, merk Nestle, berarti kalau dijadikan Rupiah menjadi sekitar Rp 2000- Rp 3000. Harganya enggak terlalu beda dengan di Indonesia. Setelah itu, kita langsung menuju lantai paling bawah karena kita mau ke hostel dengan menggunakan BTS (Bangkok Mass Transit System). Gue juga enggak ngerti kenapa huruf "M" nya enggak dimasukkin. Rute kita adalah Suvarnabhumi Airport - Phaya Thai seharga 45 Baht lalu dilanjutkan dengan BTS Phaya Thai - Asok seharga 30 Baht. Rute BTS dan MRT seperti di bawah ini, bisa juga lo unduh dari internet kok. Coba cari dengan kata kunci BTS bangkok, akan banyak pilihan peta yang bisa lo pilih.

Ketika berada di dalam BTS menuju Phaya Thai, di depan gue duduk seorang Ibu yang sedang berbicara bahasa Inggris dengan seorang Bapak yang sepertinya penduduk asli Thailand. Bapak tersebut sedang menjelaskan rute-rute BTS dan MRT yang ada di peta. Ketika Ibu tersebut berbicara kepada suaminya, tiba-tiba terdengar logat yang enggak asing lagi. Ternyata...mereka adalah pasangan dari Surabaya. Dunia itu sempit ya. Baru beberapa jam lalu meninggalkan Indonesia, eh..ketemu lagi orang Indonesia di Bangkok. Bapak yang menjelaskan Ibu tadi ternyata orang Thailand yang bekerja di suatu industri pembuatan spare part dan menurut dia, Indonesia adalah pasar terbesar perusahannya. Makanya, dia sangat senang ketika bertemu orang Indonesia di Bangkok. Bapak tersebut sangat membantu kami. Dia menjelaskan bagaimana cara menggunakan BTS dan MRT (maklum, Indonesia belum punya :p). Dia juga mengajarkan bagaimana cara menggunakan vending machine untuk pembelian tiket. Dia juga menjelaskan beberapa tempat wisata terkenal di Bangkok. Pokoknya Bapak itu sudah seperti pemandu wisata. Wah...hari pertama tiba di Bangkok sudah disambut dengan ramah, senangnya..... ^___^.
Setelah mengobrol cukup lama, kami pun berpisah, baik dengan Bapak Thailand baik hati tersebut maupun dengan pasangan dari Surabaya tersebut. Yang mengejutkan, ternyata rumah Bapak Thailand itu masih jauh dan dia mau menyisihkan waktunya demi memandu kami. Oh...
Kemudian, gue dan teman-teman melanjutkan naik BTS menuju Stasiun Asok. Ketiba tiba di Stasiun Asok, kami bingung harus menuju ke arah mana. Bertanya ke petugas, kami mendapat jawaban tidak terlalu memuaskan. Mereka hanya menunjukkan arah dengan bahasa tubuh. Sepertinya masih banyak petugas stasiun yang tidak terlalu bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Kami pun mengikuti arahnya, tapi kami bingung lagi, harus belok kanan atau kiri. Lalu dengan PD nya, gue belok kanan. Setelah berjalan cukup jauh, kami menyerah. Untung kami menemukan Pos Polisi. Lalu kami bertanya dan sekali lagi kami mendapat jawaban berupa bahasa tubuh dan sedikit arahan dalam bahasa Inggris yang tidak begitu jelas. Ternyata kami salah jalan. Kami pun mengikuti petunjuk dari Polisi tersebut. Ternyata setelah pintu keluar Stasiun, kami seharusnya berbelok ke kiri bukan ke kanan. Jadi, daritadi kami hampir mengitari Stasiun Asok, naik turun demi menemukan jalan Asok Montri Hostel yang berada di Soi Sukhumvit 19. Berbekal petunjuk bahwa Hostel kami dekat dengan Friend's massage, kami pun mencari tempat tersebut. Ketika sedang mencari tempat tersebut, kami menemukan sevel. Gue langsung menuju sevel, membeli beberapa perlengkapan mandi yang tidak terbawa dan...lanjut mencari hostel. Tidak lama kami menemukan tempat pijat yang dimaksud dan hostel kami berada di gang sebelahnya, agak masuk. Untung hostel kami mempunyai papan nama yang menyala sehingga terlihat dari jalan. Dengan semangat kami langsung menuju hostel tersebut. Tempat tidur dan mandi langsung terbayang di depan mata.
Asok Montri Hostel
Asok Montri Hostel
Asok Montri Hostel menurut gue adalah hostel yang nyaman. Hommy. Pagarnya berwarna putih susu, terbuat dari kayu. Di depannya terdapat kotak pos berwarna merah dan papan nama berwarna coklat yang bertuliskan Asok Montri Hostel. Ketika masuk, kami langsung disambut oleh tiga orang Thailand, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Ternyata mereka pemilik hostel tersebut. Sambil melakukan registrasi, saya berbincang-bincang dengan Arm, laki-laki pemilik hostel tersebut. Ternyata dia pernah ke Indonesia dan tujuan dia ke Indonesia adalah untuk mengambil kelapa-kelapa langsung dari perkebunannya lalu dijual di Thailand. Jadi, kelapa-kelapa yang dijual di Thailand itu kelapa Indonesia? -__-
Arm tinggal di lantai bawah hostel ini. Ia tinggal bersama istri dan adik perempuannya. Istrinya sedang hamil dan mereka sangat senang. Arm banyak bercerita kepada kami, antara lain tentang kehidupannya, pekerjaannya hingga cara menuju ke tempat-tempat wisata di Thailand. Cerita bisa terjalin lancar antara kami dan Arm karena Arm pintar berbahasa Inggris. Sebenarnya, istri Arm juga bisa berbahasa Inggris, namun ia tidak terlalu banyak bicara, sedangkan adik Arm, tidak terlalu lancar berbicara dalam bahasa Inggris dan ketika dia berbicara dalam bahasa Inggris, kami sebenarnya tidak terlalu paham karena terlalu cepat dan masih dalam logat Thailand. Tapi dia sangat bersemangat ketika berbicara dengan kami, lagipula dia ramah, jadi...ya sudahlah.
Untuk mendapatkan hostel ini, kami menggunakan situs hostelworld.com. Dengan situs ini, lo bisa memilih hostel terdekat di lokasi tujuan. Harga tergantung dari pilihan kamar. Ada kamar yang menyedikan 1 tempat tidur, 2, 4, 6, bahkan 8. Semakin banyak tempat tidur di suatu kamar, makin murah harga sewanya. Kalau lo milih yang tempat tidurnya banyak tapi jumlah lo dan teman-teman cuma sedikit, ya siap-siap berbagi dengan backpacker lain. Ada juga pilihan satu kamar khusus perempuan atau campur. Kami memlih satu kamar empat tempat tidur dan campur. Untuk pilihan tersebut kami dikenai harga 325.004 Baht/bed/person. Karena ada 4 orang, maka harga tersebut dkali 4 sehingga menjadi 1300 baht/hari. Kami menginap selama 2 hari, dari tanggal 4-5 Juni. Jadi, total pengeluaran adalah 2600 Baht. Pemesanan hostel menggunakan situs ini mewajibkan pemesan untuk membayar deposit sebesar 10% dari total harga pemesanan. Sisanya akan dibayarkan ketika lo check in.
Ketika melakukan registrasi hostel, kami diminta untuk membayar sisa pembayaran saat itu juga. Kami semua langsung kaget karena teman kami, Danang, bilang bahwa sisa pembayaran hostel dibayar pada hari terakhir kami menginap. Kami langsung panik. Masing-masing langsung mengeluarkan Baht yang dimiliki. Jeffri langsung mengeluarkan 1000 Baht, Wanda 1000 Baht dan gue 540 Baht. Pas dengan jumlah kekurangan. Selesai membayar kami langsung naik ke atas dengan lemas. Bingung memikirkan bagaimana harus membeli makanan karena belum tukar uang ke Baht, sedangkan hari ini sudah malam dan money changer pasti sudah tutup.
Sampai di kamar, gue langsung mengeluarkan sisa Baht yang gue miliki. 320 Baht. Wanda beberapa ratus Baht, gue lupa, dan Jeffri 0 Baht. Oh...
Kita berencana untuk memakan perbekalan kita dengan hanya membeli nasi putih. Tapi cacing di perut tidak bisa diajak kompromi. Mereka minta jatah makan yang lebih besar. Ok. Berarti kita harus makan keluar. Mencari makanan yang murah, tapi mengenyangkan, itu tepatnya.
Untungnya kamar di hostel ini nyaman. AC-nya dingin, tempat tidurnya nyaman, dapat handuk gratis, dapat minum gratis, ada Wifi gratis, letak kamar kita dekat dengan kamar mandi, dan keramahan pemilik hostel setidaknya untuk sementara meredakan kekhawatiran kami, gue khususnya.
Ketika melakukan registrasi hostel, kami diminta untuk membayar sisa pembayaran saat itu juga. Kami semua langsung kaget karena teman kami, Danang, bilang bahwa sisa pembayaran hostel dibayar pada hari terakhir kami menginap. Kami langsung panik. Masing-masing langsung mengeluarkan Baht yang dimiliki. Jeffri langsung mengeluarkan 1000 Baht, Wanda 1000 Baht dan gue 540 Baht. Pas dengan jumlah kekurangan. Selesai membayar kami langsung naik ke atas dengan lemas. Bingung memikirkan bagaimana harus membeli makanan karena belum tukar uang ke Baht, sedangkan hari ini sudah malam dan money changer pasti sudah tutup.
Sampai di kamar, gue langsung mengeluarkan sisa Baht yang gue miliki. 320 Baht. Wanda beberapa ratus Baht, gue lupa, dan Jeffri 0 Baht. Oh...
Kita berencana untuk memakan perbekalan kita dengan hanya membeli nasi putih. Tapi cacing di perut tidak bisa diajak kompromi. Mereka minta jatah makan yang lebih besar. Ok. Berarti kita harus makan keluar. Mencari makanan yang murah, tapi mengenyangkan, itu tepatnya.
Untungnya kamar di hostel ini nyaman. AC-nya dingin, tempat tidurnya nyaman, dapat handuk gratis, dapat minum gratis, ada Wifi gratis, letak kamar kita dekat dengan kamar mandi, dan keramahan pemilik hostel setidaknya untuk sementara meredakan kekhawatiran kami, gue khususnya.
Kami pun memutuskan untuk makan di jajanan pinggir jalan. Harga makanan yang dijajakan antara 30-40 Baht, sekitar Rp 10.000-12.000. Gue makan bihun berkuah hitam, hangat, dengan bau rempah yang menyengat, ditambah bola-bola daging babi. Jangan lupa ada sayur. Orang Thailand sepertinya sangat suka sayur karena apapun makanannya, pasti ada sayur.Gue lupa nama makanannya karena namanya Thailand banget menurut gue, jadi susah diingat. Wanda makan nasi dan seafood berkuah pedas berwarna merah. Rasa pedasnya menyengat, tapi ketika lo campur nasi, rasa pedas itu akan melunak. Sedangkan Jeffri, menunya hampir sama dengan gue, hanya bedanya dia menggunakan daging ayam/ikan dan nasi. Porsi makanannya cukup besar menurut gue. Satu mangkok besar dengan kuah yang banyak. Mengenyangkan deh.
Satu hal yang gue bingung. Di setiap meja, disediakan wadah yang bentuknya seperti ember. Lalu di dalamnya diletakkan daun-daunan yang bentuknya seperti kemangi, ada biji-biji bunganya. Yang gue bingung, tanaman itu bisa dimakan atau hanya untuk hiasan.Untuk amannya, gue enggak sentuh itu tanaman, daripada malu. Selesai makan, Wanda ingin membeli sebungkus nasi putih. Penjualnya bingung ketika bilang mau beli nasi putih saja. Entah penduduk sana enggak biasa beli seperti itu atau bingung dengan bahasa Inggris yang kita pergunakan. Tapi setelah dijelaskan, akhirnya dia mengerti dan memberikan nasi bungkus kepada kita secara cuma-cuma alias gratis. Kaget juga sih, tapi senang. Maklum backpacker. Pengiritan sedikit apa pun sangat berarti.
Niat setelah makan malam adalah menjelajah daerah sekitar kita batalkan karena rasa lelah yang sudah hinggap di tubuh. Tidur adalah tujuan utama saat itu. Sayangnya ketika tiba di hostel, ternyata kita tidak bisa langsung tidur. Menyusun itinerary dan mencatat pengeluaran hari ini menjadi hal yang utama dan ini, menurut gue, hal yang harus dicatat sesegera mungkin karena kalau ditunda pasti lupa.
Hari Kedua
Mentari pagi perlahan tapi pasti, masuk,
menelusup melalui celah-celah jendela, menembus tirai dan mendarat tepat di
wajahku. Sinarnya berhasil membangunkanku dari tidur nyenyak. Memaksaku untuk
membuka mata ‘tuk menyambut kedatangannya. Dengan enggan, kubuka
mata dan kulihat kamar yang asing. Selimut putih, seprai putih, dan tempat
tidur berwarna coklat. Semuanya asing. Aku tertegun. Oh...ternyata ini kamar
hostel tempat aku menginap. Aku sudah di Bangkok. Selamat pagi Bangkok. ^_^
Kubuka mata dan kusapa teman-temanku.
Mereka pun ikut bangun. Sebenarnya sejuknya belaian AC dan lembutnya selimut
memanggilku untuk kembali terlelap. Tapi, aku ingat bahwa tujuanku ke tempat
ini bukan untuk tidur, tapi untuk jalan-jalan. Maka, kupaksakan diri untuk
bangun. Sebenarnya ada penyemangat untuk bangun pagi yaitu sarapan gratis yang
disediakan oleh hostel ini. Sarapan pagi gratis yang disediakan
dari pukul 08.00 – 10.00 WIB. Oleh karena itu, gue dan teman-teman segera
bergegas. Mandi? Nanti dulu, yang penting dapat sarapannya dulu.
Ketika sampai di meja makan, yang terletak
di lantai dasar, gue sempat berpikir bahwa kita disediakan sarapan nasi + aneka
lauk-pauk. Wow...baik banget ini hotel, gue pikir. Kenapa gue berpikiran
seperti itu? Sebab di meja makan sudah tersedia nasi, ikan berkuah, dan sayur
tumis. Semuanya ada di dalam rantang. Ternyata...makanan itu milik istrinya
Arm. Maklum orang hamil, jadi makanannya empat sehat lima
sempurna. Untungnya gue enggak main comot, kalau iya, malunya setengah mati.
Sarapan yang disediakan ternyata roti
tawar. Lalu ada pilihan tambahan yaitu mentega dan selai strawberry. Ada juga
alat pemanggang roti. Teh dan kopi juga gratis. Akhirnya, gue mengambil piring
kecil dan cangkir dari rak piring di dekat meja makan. Karena enggak ada meses,
maka gue membuat roti gula yaitu roti yang diolesi mentega lalu ditaburi gula.
Dari beberapa orang yang makan, hanya gue yang melakukan itu. Padahal gula yang
diletakkan di meja makan ditujukan untuk pemanis teh dan kopi. Aneh? Ah..biasa
aja dan menurut gue, lo harus coba karena rasanya enak + mengenyangkan.
Sementara gue dan Wanda asyik
sarapan, Jeffri langsung asyik membuka media social dan email. Salah satu
tujuannya adalah untuk berkomunikasi dengan Danang. Hal ini penting karena
Danang yang tahu segalanya. Hm...sebenarnya enggak gitu juga sih, Cuma...
enggak PD aja kalo enggak ada Danang. Kita bertiga itu seperti anak ayam yang
kehilangan induknya. Makanya, kita butuh Danang dan sangat mengharapkan dia
datang. Apalagi gue enggak berani menggunakan simcard Indonesia gue. Itu karena
gue pake Telkomsel dan prabayar, gue takut jebol tagihannya kalo tetap gue
pergunakan. Dan...kemarin gue lupa beli simcard Thailad. Jadi, kita hanya
mengandalkan wifi hostel untuk dapat berkomunikasi dengan Danang.
Oh ya, ada yang lucu ketika sarapan.
Jeffri ingin membuat roti panggang tapi dia enggak tahu cara mengoperasikan
alatnya. Gue langsung bilang ke Wanda untuk mengerjai Jeffri dan Wanda setuju.
Kapan lagi lo bisa mengerjai dia selain di luar sarangnya hahaha... Jadi, kita
bilang bahwa ketika panelnya ditekan ke bawah dan rotinya dimasukkan, maka dia
harus menangkap roti itu karena rotinya akan loncat tinggi. Dan..dia percaya.
Dengan patuhnya dia menunggu di samping alat pemanggang roti. Melihat
tingkahnya, gue dan Wanda sebenarnya ingin ketawa tapi kita tahan. Begitu
panelnya naik ke atas dan rotinya enggak loncat tinggi, dia langsung balik badan
dan memasang tampang BT. Gue dan Wanda langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Sambil sarapan, kita menyusun rencana
perjalanan hari ini. Kita berencana untuk mengunjungi Grand Palace dan tempat
wisata sekitanya seperti Wat Pho, Wat Arun dan menyusuri Sungai Chao
Phraya. Itu memang tempat wisata mainstream tapi ada istilah lo
belum ke Thailand kalo belum mengunjungi tempat-tempat wisata di atas. Marilah
kita mengikuti mainstream, toh enggak ada salahnya juga. Buku panduan sudah
dibaca, peta sudah di tangan, bertanya langsung kepada orang Thailand nya pun
sudah dilakukan. Intinya, teori sudah di tangan, tinggal prakteknya saja. Maka,
dengan mantap kami keluar hostel dan mencoba menjelajah Thailand, tanpa Danang,
tanpa alat komunikasi. Nekat? Ya begitulah. Tapi itu tantangannya,
mempraktekkan teori di kenyataan.
Kami keluar hostel sekita pukul 11.00 WIB.
Kesiangan sih untuk pergi jalan-jalan. Tapi, daripada tidak sama
sekali, lebih baik telat bukan? Sebelumnya, Jeffri membeli makanan yang
bentuknya seperti martabak manis di Indonesia. Kata dia sih yang dia makan
seperti martabak kelapa. Harganya 10 Baht, berarti sekitar Rp 3000. Rupanya dua
lembar roti tidak cukup mengganjal perutnya. Setelah itu kami meneruskan
perjalanan.
Tidak lama kami berjalan, hujan
rintik-rintik turun. Kami pun tidak terlalu peduli karena kami pikir sebentar
lagi kami akan tiba di Stasiun Asok. Perjalanan dari hostel ke Stasiun Asok
paling memakan waktu sekitar 5 menit, makanya kita tenang-tenang saja.
Tiba-tiba hujannya langsung deras + petir menyambar-nyambar. Langsung deh kita
lari ke sevel karena tempat itu yang paling dekat. Ketika sedang menunggu,
tiba-tiba tiang listrik di dekat Stasiun Asok tersambar petir dan mengeluarkan
percikan api dengan suara yang menggelegar. Kami pun kaget, bahkan gue sempat
berpikiran ada bom meledak. Tapi setelah melihat tiang listrik yang tersambar
petir, gue agak tenang. Sayangnya rasa tenang gue enggak berlangsung lama.
Tiang listrik kembali tersambar dan percikkan api yang dikeluarkan lebih banyak
daripada sebelumnya, bahkan kali ini ada efek asap-asapnya. Serem sih tapi
tempat gue berteduh jauh ini, jadi...agak tenang.
Ditunggu dan ditunggu ternyata hujannya
enggak berhenti, malah makin deras. Waktu semakin maju dan kita belum pergi
kemanapun. Akhirnya kita memutuskan untuk membeli payung. Cukup 2 payung karena
harganya, menurut gue mahal. 99 Baht, untuk payung yang ukurannya kecil. Bagus
sih bahannya Cuma...agak enggak rela gitu mengeluarkan uang segitu untuk barang
yang enggak terlalu penting. Berbekal 2 payung, kami keluar dari sevel. Ketika
sampai di Money Changer, hujannya berhenti dan matahari langsung bersinar
terang. Cuaca cerah. WTF! Payung itu cuma dipake 5 menit kurang.
Grrr...
Saat di money changer/money exchange, kita
agak terkejut. Ternyata nilai Rupiah rendah banget. 1 Baht = 0.0126 rupiah.
Sedih T-T. Untung yang kita bawa usd, jadi nilainya tinggi. Setelah menukar
uang, kita langsung menuju ke Stasiun Asok. Gue dan Wanda sudah berniat untuk
membeli tiket menggunakan vending machine. Makanya, kita sudah menyiapkan uang
pas. Harga tiket MRT ke Hua Lamphong 27 Baht/orang, berarti sekitar
8-9 ribu rupiah. Setelah tiba di Stasiun Hua Lamphong kita berusaha mencari
pintu keluar. Ada banyak tanda exit dan itu membuat kita bingung. Maka, kami
pun mencari petugas. Ternyata petugasnya tidak bisa berbahasa Inggris, tapi
sepertinya dia mengerti maksud kami. Lalu dia menunjukkan arah keluar dan
ternyata benar.
Tuk-Tuk
Di dekat pintu keluar ada ATM dan Jeffri
ingin melihat saldo rekeningnya. Ketika dia sedang sibuk, tiba-tiba gue
didekati seorang Bapak tua yang mengoceh tidak karuan. Tampang dan bajunya
acak-acakan. Aduh...orang enggak waras ini sepertinya. Gue udah menghindar,
tapi dia mengikuti terus. Aduh...gue takut. Untungnya petugas Stasiun melihat
kejadian itu dan segera membawa orang tersebut keluar. Lega...
Ketika keluar Stasiun, kami bertanya
kepada petugas mengenai dimana kami dapat menghentikan taksi untuk menuju ke
Grand Palace. Gue enggak ngerti, apakah petugas itu enggak mengerti bahasa
Inggris, atau bahasa Inggris kami yang kurang jelas, tapi petugas tersebut
hanya menyuruh kita untuk lurus. Kita ikuti petunjuk petugas tersebut. Ketika
ada persimpangan, kita bingung harus ke terus ke kiri atau menyeberang. Di
tengah kebingungan itu, tiba-tiba muncullah sesosok Bapak-Bapak berkemeja biru
kotak-kotak kecil. Dia mengaku sebagai insinyur dan dia mencoba untuk menyapa
dalam bahasa Indonesia. Bapak itu bertanya tujuan kami, Ketika kami
sebutkan ke Grand Palace, tiba-tiba Bapak itu bilang bahwa Grand Palace tutup
karena ada upacara dan baru buka pukul 17.00 WIB. Lalu dia mengambil peta
yang kami bawa dan mengatakan bahwa sambil menunggu Grand Palace buka, kami
bisa jalan-jalan ke beberapa tempat, antara lain pasar bunga. Tempat yang dia
tunjukkan sama sekali tidak ada tempat wisatanya. Pasar bunga? Gue sempat
bingung sih, apa yang menarik dari pasar bunga. Tapi, entah kenapa gue
nurut-nurut aja bahkan sangat memperhatikan petunjukknya dia, meskipun tahu itu
aneh. Lalu, tiba-tiba Bapak tersebut memanggil tuk-tuk dan berbicara dalam
bahasa Thailand.
Tiba-tiba kami disuruh naik tuk-tuk dan
dia bilang kita hanya cukup membayar 20 Baht untuk 3 orang, dan akan diantar
sampai ke tempat tujuan. Gue dan Wanda langsung naik tuk-tuk, tapi Jeffri malah
menjauh. Gue bingung terus gue panggil dia. Dia kelihatan bimbang tapi tetap
naik. Di dalam tuk-tuk, Jeffri marah. Dia bilang bahwa ini penipuan dan kita
harus turun secepatnya. Tiba-tiba gue sadar dan merasa gue ini polos banget
kaya anak kecil. Padahal sudah banyak buku panduan yang mengatakan untuk
berhati-hati dengan tuk-tuk. Menyebalkan! Kemudian, Wanda langsung meminta
untuk turun dan membayar 20 Baht seperti yang diminta tadi. Untungnya belum
terlalu jauh jadi kita bisa kembali lagi ke tempat awal. Selama perjalanan itu,
suasana langsung berubah menjadi enggak enak. Jeffri ngomel-ngomel, gue dan
Wanda cuma bisa diam. Ketika sampai di tempat awal, kami melihat Bapak yang
tadi mengaku sebagai insinyur. Gue dan Jeffri langsung menjauh dari jangkauan
Bapak tadi, tapi Wanda tetap jalan karena dia berniat untuk bertanya kepada
petugas di Stasiun. Wanda dicegat bapak tersebut, gue Cuma memperhatikan dari
jauh. Untung Wanda tidak digangguin. Kalo digangguin? Enggak tahu juga sih mau
ngapain, paling teriak. Tidak lama Wanda menghampiri kami. Gue langsung menarik
tangannya untuk menjauh dari tempat tersebut dan segera mencari taksi. Ketika
kami sedang berjalan mencari taksi, tidak jauh dari tempat awal kami berhenti,
ada seorang bapak yang pakaiannya mirip dengan bapak yang menipu kami tadi:
berbaju kotak-kotak biru dan bercelana bahan hijau. Rapi. Bapak tersebut
berhasil mendapatkan “mangsa” baru untuk menaiki tuk-tuk, seperti kami tadi.
Hm...sindikat ini.
Oh ya, untuk para turis, ada tipsnya nih
untuk mencari taksi. Karena kebanyakan supir taksi Thailand tidak bisa berbahasa
Inggris dengan baik dan benar, maka mereka enggan mengangkut turis. Jadi,
sebenarnya kita yang bertampang asia agak bersyukurlah karena supir taksi tidak
terlalu bisa membedakan. Lalu ketika sudah dapat taksi, tidak perlu bertanya.
Langsung PD jaya saja naik ke dalam taksi, tutup pintunya, sebutkan tujuan dan
bilang “meter”. Tanggapan yang lo dapat adalah supir taksinya bengong sebentar,
seakan-akan habis dikeroyok, tapi habis itu si supir taksi akan nego dengan lo.
Dia akan memberikan harga antara 100-200 Baht dengan alasan tempat yang lo tuju
macet. Jangan percaya. Tetap minta pake argo atau istilah sananya meter.
Mintalah dengan sopan tapi dengan nada tegas, maka mereka, meskipun dengan
tampang terpaksa, akan menyalakan argonya. Dari Stasiun Asok ke Grand Palace
bahkan enggak sampai 100 Baht loh, Cuma 69 Baht. Dan...jangan bayangkan
macetnya Thailand seperti macetnya Jakarta. Ternyata antrian kendaraan di lampu
merah saja sudah dianggap macet. Jauh banget ya dengan arti macet di Jakarta
yang berarti ‘stuck’ enggak bisa bergerak sama sekali atau padat merayap.
Keadaan Thailand atau Bangkok enggak jauh
berbeda dengan di Jakarta kok. Lo bisa menghentikan kendaraan sesuka hati lo.
Jadi, kita berhentikanlah taksi di sembarang tempat. Ketika pertama kali
memberhentikan taksi, kita enggak pake jurus pamungkas di atas. Ketika taksinya
berhenti, kita pake Tanya-tanya dulu dalam bahasa Inggris. Alhasil, supir
taksinya tampangnya langsung pucet terus nolak kita dengan halus. Gagal deh.
Lalu, Jeffri mengingatkan bahwa Danang pernah bilang jurus pamungkas di atas.
Ya sudah kita coba dan berhasil. Thanks Danang ^-^. Lucunya, ketika kita
menerapkan jurus di atas, supir taksi yang kita naiki tampangnya langsung
pasrah. Mau ngusir enggak enak tapi mau berkomunikasi dengan kita, dia enggak
bisa ngomong pake bahasa Inggris. Kasian deh melihat tampangnya. Untung dia
baik. God bless u mister.
Selama perjalanan ke Grand Palace, supir
taksi itu mengatakan sesuatu, tapi kita sama sekali enggak mengerti maksudnya.
Setelah kita tunjukkan peta, ternyata dia ingin menunjukkan bahwa kita saat ini
sudah berada di daerah A. Oh....begitulah tanggapan kita. Suasana selama
perjalanan ke Grand Palace, gue serasa melewati jalan Suryakencana Bogor,
kawasan Pecinan itu. Terus...yang agak membuat gue bengong adalah ada suatu
toko yang menjual sirip hiu aneka ukuran. Sirup hiu! Itu kan benda terlarang
karena dilindungi oleh hukum dan toko itu buka dengan menterengnya di pinggir
jalan, bahkan dengan santainya memajang aneka sirip hiu. Enggak ngerti lagi deh
gue.
Grand Palace
Grand Palace merupakan istana tempat tinggal Raja yang dipergunakan sejak tahun 1782. Namun, saat ini Raja sudah tidak tinggal di tempat ini. Meskipun begitu, tempat ini masih dipergunakan sebagai kantor pemerintahan.
Grand Palace merupakan istana tempat tinggal Raja yang dipergunakan sejak tahun 1782. Namun, saat ini Raja sudah tidak tinggal di tempat ini. Meskipun begitu, tempat ini masih dipergunakan sebagai kantor pemerintahan.
Hore! Kita sampai di Grand Palace. Eh..tapi mana Grand
Palacenya ya?? Yang ada tembok putih tinggi dengan trotoar yang lebar. Hampir mirip Keraton Yogyakarta. Hm..tinggal nyari pintu masuknya nih. Kita lalu
mengikuti arus turis, untuk mencari pintu masuk. Selama perjalanan mencari
pintu masuk, kita atau lebih tepatnya gue, lebih waspada. Apalagi, Jeffri
menyindir-nyindir terus tentang kejadian tuk-tuk tadi. Melihat ada banyak
burung dara terbang hilir mudik membuat gue dan Wanda waspada karena menurut
buku panduan yang kita baca, di daerah sekitar Grand Palace ada orang yang
tiba-tiba melemparkan makanan burung ke arah turis yang mengakibatkan
burung-burung dara tersebut menghampiri kita. Kemudian dia akan memaksa meminta
uang. Apalagi Jeffri terus mengingatkan.
Selama perjalanan kita melihat ada gerbang tertutup
yang dijaga oleh dua orang penjaga. Dan..sepertinya ada tingkah laku penipuan
lagi, seperti yang tertulis di buku panduan. Jadi, buku tersebut mengatakan
bahwa aka nada orang-orang yang mengatakan bahwa Grand Palace tutup dengan
menunjukkan tanda ‘no entry’ pada pintu gerbang yang sebetulnya memang tertutup
untuk umum. Lalu, mereka akan mengarahkan kita untuk melihat ke tempat
pembuatan perak atau permata gitu, gue lupa. Tidak lama, kita tiba di pintu
gerbang Grand Palace. Wow! Gayanya sangat Eropa. Di pintu masuk, ada petugas
yang bertugas merazia pakaian yang dikenakan oleh turis. Turis yang mengenakan
celana pendek dan baju terlalu terbuka langsung diberhentikan dan diberikan
kain yang dapat digunakan untuk menutupi tubuh mereka. Kalau kita sih aman-aman
saja. Yang penting pergunakan pakaian yang sopan, celana panjang atau selutut,
bersepatu, dan baju berlengan. Ketika kita masuk, turun hujan rintik-rintik.
Yah..masa hujan lagi sih. Hm...paling tidak payungnya bisa berguna (lagi) ya.
Kita berfoto-foto sejenak lalu masuk ke pintu tiket.
Dengan polosnya kita menuju loket foreigner. Dan lo tau berapa harga tiketnya?
500 Baht. Hm..mahal ya. Dengan harga tiket segitu, asumsi gue langsung setinggi
langit. Membayangkan bisa masuk istana raja, melihat-lihat kamarnya, suasana di
dalam istananya dan macam-macam asumsi tinggi lainnya. Setelah membeli tiket,
kita masuk. Di dekat pintu masuk ada antrian turis. Ternyata lo dapat air
mineral gratis. Cuma 330 ml sih tapi lumayan lah. Air mineral itu bisa
didapatkan dengan menukarkan kupon yang ada di tiket. Setelah mendapatkan,
langsung masukkan ke bagian perbekalan yaitu tasnya Jeffri karena hanya dia
yang membawa tas ransel.
Di bagian awal, kita akan disambut oleh indahnya
kuil-kuil yang atapnya menjulang tinggi ke langit. Bangunan kuil yang ada di
tempat itu sangat megah. Warna emas menjadi warna yang mendominasi, menjadikan
kuil-kuil tersebut terlihat semakin megah. Bentuk kuil yang ada di sana sih
sebenarnya seperti candi-candi kecil yang ada di Indonesia. Bedanya kalau di
Indonesia terbuat dari batu hitam di
sini terbuat dari batu berwarna-warni dan kaca sehingga terlihat glamour. Hanya ada satu kuil yang bisa dimasuki oleh pengunjung, itupun tidak boleh membawa kamera dan harus melepas alas kaki di luar kuil. Di dalam kuil tersebut ada patung Budha dan sepertinya masih digunakan untuk bersembahyang karena banyak orang yang duduk bersila seperti berdoa.
Kami sibuk mencari dimanakah bangungan yang disebut Grand Palace tersebut. Bayangan kami bangunan tersebut adalah bangunan khas Thailand yang megah, lebih megah dibanding kuil yang tadi kami lihat. Sayangnya, kami tidak melihat brosur yang diberikan kepada kami di dekat pintu masuk. Di brosur itu diperlihatkan dengan jelas rupa Grand Palace. Sambil terus mencari bangunan tersebut, akhirnya sampailah kita pada satu bangunan yang di depannnya ada foto Raja. Ya itulah Grand Palace. Ketika melihat istana itu, kami langsung diam. Jujur, bukan terpesona tapi lebih ke "udah cuma segini doang istananya?". Ini mungkin karena asumsi kami yang terlalu tinggi, membayangkan bahwa istana Raja itu sangat megah, apalagi setelah melihat kemegahan bangunan kuil tadi. Selain itu, ternyata kita tidak bisa masuk-masuk ke ruangan. Yang diperbolehkan masuk hanya beberapa ruangan dan jumlahnya terbatas. Hm... Setelah melihat-lihat sebentar, kami putuskan untuk keluar.
Puas dengan Grand Palace, kita bergegas menuju Wat Pho, tempat patung Budha tidur yagn terbuat dari emas terletak. Kita agak buru-buru karena takut tempat tersebut tutup sebab waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Wat Pho
Jarak dari Grand Palace ke Wat Pho cukup dekat. Keluar dari Grand Palace menyebrang, jalan sedikit, sampai deh di Wat Pho. Ada kejadian lucu saat kita sudah berada di luar Grand Palace. Tiba-tiba Jeffri kaget karena payungnya hilang. Dia langsung panik. Setelah diingat-ingat, sepertinya payung tersebut tertinggal di tempat ketika mendapat minum gratis. Selamat tinggal 99 Baht...
Wat Pho dikenal juga sebagai Temple of Reclining Buddha. Nama Wat Pho sendiri didapat dari nama suatu tempat di India, dimana Buddha tinggal. Wat Pho sendiri merupakan kuil tertua dan terbesar di Bangkok. Di dalamnya terdiri dari ribuan patung Budha dan satu yang terbesar yaitu Budha tidur. Panjangnya sekitar 160 kaki.
Biaya tiket masuk ke Wat Pho jauh lebih murah yaitu 100 Baht. Di Wat Pho, ada banyak kuil yang bisa lo masuki, tapi sama seperti kuil-kuil lainnya, lo harus buka alas kaki dan tidak boleh menggunakan topi. Bedanya, lo boleh mengambil gambar keadaan di dalam kuil.
Bagian dalam kuil didominisi warna merah dan emas, warna yang menunjukkan keagungan. Lalu, di tengah-tengah ruangan, lo dapat melihat patung Budha berwarna emas yang disinari lampu sorot dari berbagai sisi, menambah keagunganNya. Suasana di dalam kuil tenang dan sejuk, menambah khusyuk orang yang ingin berdoa. Tidak terlalu tenang sih sebenarnya karena banyak orang yang berdesak-desakan, tapi secara umum sih suasana mendukung untuk berdoa singkat.
Setelah puas, kami pun pulang. Di tengah jalan, gue dan Wanda tergiur dengan jus delima yang dijual oleh pedagang kaki lima di daerah sekitar Wat Pho. Delima Thailand besar dan berwarna merah. Beda banget dengan delima lokal yang warnanya agak pucat. Ketika diminum, rasanya manis dan menyegarkan. Pas banget diminum ketika capek habis jalan dan panas cukup menyengat. Harga satu botol kecil jus delima 40 Baht. Wat Pho
Jarak dari Grand Palace ke Wat Pho cukup dekat. Keluar dari Grand Palace menyebrang, jalan sedikit, sampai deh di Wat Pho. Ada kejadian lucu saat kita sudah berada di luar Grand Palace. Tiba-tiba Jeffri kaget karena payungnya hilang. Dia langsung panik. Setelah diingat-ingat, sepertinya payung tersebut tertinggal di tempat ketika mendapat minum gratis. Selamat tinggal 99 Baht...
Wat Pho dikenal juga sebagai Temple of Reclining Buddha. Nama Wat Pho sendiri didapat dari nama suatu tempat di India, dimana Buddha tinggal. Wat Pho sendiri merupakan kuil tertua dan terbesar di Bangkok. Di dalamnya terdiri dari ribuan patung Budha dan satu yang terbesar yaitu Budha tidur. Panjangnya sekitar 160 kaki.
Biaya tiket masuk ke Wat Pho jauh lebih murah yaitu 100 Baht. Di Wat Pho, ada banyak kuil yang bisa lo masuki, tapi sama seperti kuil-kuil lainnya, lo harus buka alas kaki dan tidak boleh menggunakan topi. Bedanya, lo boleh mengambil gambar keadaan di dalam kuil.
Bagian dalam kuil didominisi warna merah dan emas, warna yang menunjukkan keagungan. Lalu, di tengah-tengah ruangan, lo dapat melihat patung Budha berwarna emas yang disinari lampu sorot dari berbagai sisi, menambah keagunganNya. Suasana di dalam kuil tenang dan sejuk, menambah khusyuk orang yang ingin berdoa. Tidak terlalu tenang sih sebenarnya karena banyak orang yang berdesak-desakan, tapi secara umum sih suasana mendukung untuk berdoa singkat.
Jalan di Thailand agak membingungkan karena jarang terdapat papan penunjuk arah dan kalaupun ada, tulisannya dalam bahasa Thailand, mana gue ngerti. Udah gitu, enggak ada atau sedikit lampu penyeberangan. Zebra Cross juga, jadi kita bingung mau menyeberang dimana.
Ketika sedang mencari arah pulang, tiba-tiba Jeffri memberikan kabar yang mengejutkan. Danang enggak jadi ke Thailand. Mendengar berita itu kepala gue kayak berasa disambar petir di siang bolong. Panik. Itu adalah perasaan yang keluar saat pertama kali mendengar berita itu. Selanjutnya kesal, marah, dan bingung. Gue berasa terjun bebas dari ketinggian berapa ratus meter.
Suasana langsung berubah jadi senyap. Selain karena lelah habis jalan lama, kita kaget juga mendengar berita itu. Jadi, rasa capek langsung nambah 2x lipat. Kalau sudah begini, nafsu makan langsung hilang. Yang ada di pikiran gue saat itu adalah ingin menghubungi Danang, mendengar langsung dari orangnya mengenai kabar itu. Kita pun memutuskan untuk mencari sevel. Tidak lama kita menemukannya dan gue langsung top-up pulsa sebesar 100 Baht. Untung malam sebelumnya gue udah sempet beli no. Thailand dan sempat sms-an dengan Danang. Dari situ dia memberitahu kalau untuk aktivasi BB harus tersedia pulsa sebesar 100 Baht.
Sayangnya provider hanya menyediakan kartu isi ulang yang bertuliskan bahasa Thailand. Jadi, gue minta tolong mbak-mbak kasir sevel untuk mengisikan. Untung mbaknya baik dan bisa sedikit bahasa Inggris. Sayangnya ketika gue tanya bagaimana cara aktivasi BBM mereka enggak mengerti. Akhirnya gue coba-coba sendiri untuk aktivasi BBM, tapi tetep aja enggak berhasil. Nyerah deh. Mau enggak mau, gue dan Danang berhubungan lewat sms, tapi ya lebih mahal jadinya. Oleh karena itu, gue milih untuk balik ke hotel saja karena disana ada layanan wifi gratis. Dan...gue butuh AC untuk mendinginkan kepala gue yang panas ini.
Kita pun memberhentikan taksi. Kali ini kita mendapat supir taksi yang agak bawel. Dia susak sekali menggunakan meter. Berbagai macam alasan dia sampaikan, tapi kita tetap ngotot pake meter. 3 lawan 1. Akhirnya dia nyerah. Dengan sangat terpaksa dia menyalakan argo meternya lalu (sepertinya) ngomel panjang lebar dalam bahasa Thailand ke temannya melalui telepon. Bodo amat, gue enggak ngerti ini. Dia ngomel dalam bahasa Thailand, kita ngomel dalam bahasa Indonesia. Kebayang kan situasi di dalam taksi seperti apa. Ternyata kalau pakai argo meter, kita hanya membayar 70 Baht. Jauh lebih murah dibanding penawaran dia yang 3x lipat harga di argo meter. Ketika sampai di stasiun tujuan, si supir taksi langsung menyuruh kita untuk cepat-cepat turun. Entah karena dia takut ada Polisi atau dia kesal dengan kita.
Stasiun kita berhenti mirip banget dengan Stasiun Jakarta-Kota, cuma agak rapi aja. Agak loh ya. Sayang enggak boleh foto-foto di dalam stasiun. Dan..petugas disini, sama saja dengan petugas di stasiun-stasiun lainnya, enggak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Jadi, pelafalan jelas tempat tujuan dan bahasa tubuh menjadi cara kami berkomunikasi.
Tarif MRT ke dari Hua Lamphong ke Sukhumvit Station sebesar 27 Baht/orang. Untung perjalanan ke hostel tidak terlalu lama, sebab perut gue udah keroncongan. Tidak jauh dari Stasiun Sukhumvit, gue dan Jeffri langsung membeli sosis babi. Sosis babinya terdiri dari dua buah. Bentuknya lonjong besar berisi bihun dan ditusuk seperti sate. Harganya 10 Baht sebatang. Lucunya, gue ditawari mau pake kol atau enggak. Orang Thailand sangat suka sayur, beda banget dengan orang Indonesia.
Belum lama jalan, mata gue langsung menangkap sinyal-sinyal makanan murah dan enak. Pad thai. Kebetulan makanan ini target gue tapi belum kesampaian. Tapi ada juga Hoythok. Kelihatannya dua-duanya enak dan mengenyangkan. Akhirnya, gue beli Hoythok dan Jeffri beli Pad Thai. Harga masing-masing 30 Baht.
Tiba di hostel, gue memilih untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu, gue mendatangi adiknya Arm, meminta bantuan untuk mensetting no baru gue agar bisa gue pake BBM-an. Tetap enggak bisa. Gue tanya Arm, dia juga enggak paham. Ternyata, orang Thailand enggak familiar dengan BB. Pantas.
100 % menyerah. Akhirnya gue pergunakan wifi untuk berkomunikasi dengan Danang dan Jeffri berkomunikasi lewat twitter serta Facebook. Ketika terhubung dengannya, langsung gue sampaikan unek-unek gue, alasan gue kesal dsb. Untung Danang sabar. Entah sabar beneran atau disabar-sabarin hehe... Tapi disini, dia menenangkan gue dan Wanda. Dia janji akan kasi itinerary perjalanan besok. Dan emang harus karena besok adalah hari terakhir kita di Bangkok karena besok kita udah harus berangkat ke Krabi. Tidak lama, Danang mengirimkan dokumen-dokumen penting yang harus kita print. Untung di hostel ada printer.
Kemudian, gue dan Wanda menyusun pengeluaran-pengeluaran hingga hari ke-lima. Setelah mengetahui bahwa keuangan aman, gue baru bisa mandi istirahat. Niatnya sih bakal langsung tidur karena hari ini rusuh banget. Ternyata, malah ada sesi curhat dan kita baru tidur sekitar pukul 02.00 WIB.
Hari Ketiga
Hari ketiga dimulai dengan bangun agak kesiangan. Sarapan seperti biasa dan bertanya-tanya mengenai Phi-Phi Island kepada Arm. Menurut Arm, Pulau yang bagus hanya Phi-Phi dan Maya Beach. Yang lainnya membosankan. Setelah puas bertanya, kami pun segera merapikan diri dan juga kamar yang akan kami tinggalkan. Tidak lupa foto-foto.Terima kasih Asok Montri Hostel, Arm, adiknya, dan istrinya atas pelayanan kalian yang sangat bersahabat. Saat check out, tiba-tiba kami dikembalikan 100 Baht. Bingung dong. Ternyata itu adalah uang deposit. Oh...ternyata kemarin termasuk deposit.
MBK Mall
Tujuan selanjutnya adalah MBK Mall Bangkok. Tempat ini adalah tempat popular bagi orang lokal dan turis sebab barang-barang yang dijual di tempat ini murah, bisa ditawar lagi. Kalo di Indonesia seperti di ITC. Tapi...jangan bayangkan ITC yang tempatnya sempit, panas, dan harus berdesak-desakkan. MBK itu seperti PIM. Tempatnya bersih, luas, nyaman, dan dingin. Pedagangnya pun rapi. Asik deh belanja di sini.
Karena kita mau ke MBK, maka kita harus turun di National Museum. Harga tiketnya 31 Baht/orang. Selanjutnya tujuan kita adalah Sai Thai Mai Terminal. Untuk menuju ke tempat ini, dari Stasiun National Museum beli tiket ke arah Victory Monument. Harga tiketnya 31 Baht/orang.
Dari Stasiun Victory Monument menuju Sai Thai Terminal ada dua pilihan yaitu naik Bis umum no. 28 atau naik taksi. Tapi, menurut rekomendasi adiknya Arm, lebih baik naik taksi karena lebih cepat sebab macet. Lagipula menurut Danang, kami harus tiba di terminal sebelum sekitar pukul 16.00 karena harus mengurus tiket bis.
Di BTS, kita masih bimbang, mau naik taksi atau bis. Akhirnya pilihan dibuat. Kalau kita turun dari BTS dan ada bis no. 28, kita naik bis, kalau tidak ya berarti naik taksi. Ternyata ketika turun, bus no. 28 belum nampak, maka kita naik taksi. Sama seperti pengalaman sebelumnya, si supir taksi nego harga tapi kita tetap ngotot pake meter. Si supir mengiyakan tapi meminta tarif tol. Oh..kalo itu sih ga masalah. Harga taksi dari Victory Monument ke Sai Thai Terminal 130 Baht, dibagi 3 orang jadi masing-masing bayar 43 Baht.
Sai Thai Terminal
Ketika tiba di Sai Thai Mai Terminal, gue bingung, ini terminal atau mall sebab penampilannya enggak seperti terminal-terminal bis di Indonesia yang (maaf) agak kumuh. Penampilannya seperti mall ITC yang ada di Indonesia. Setelah bertanya kepada petugas, kita langsung disuruh menuju lantai 4. Ternyata di lantai 4, isinya adalah booth-booth tiket bis malam. Rapi loh.
Tiket bis Bangkok-Krabi sudah dipesankan Danang dari Indonesia. Jadi kita tinggal mencari booth tiket yang dimaksud lalu menunjukkan print-an pemesanan tiket, menunjukkan salah satu paspor, tanda tangan, jadi deh. Tiket sudah di tangan. Masih ada waktu 2 jam karena bis berangkat pukul 18.00 WIB. Berarti masih ada waktu untuk makan. Cari 711!
711 udah seperti Alfa atau Indomart di Indonesia, tersebar dimana-mana. Untuk makan siang, pilihan jatuh pada paket nasi + lauk dengan harga 29 Baht. Gue beli nasi + ayam teriyaki. Rasa? Hm...bumbunya sih enak cuma ayamnya agak kenyal. Di depan loket tiket bis malam disediadakan banyak kursi dan kita duduk tepat di depan loket tiket pada gambar di atas. Itu karena tempat duduk yang bisa memuat 3 orang ya di situ doang. Hm..sebenarnya sih enggak benar juga kalo muat 3 orang karena sudah ada 1 orang yang duduk tapi kita agak "memaksa". Lalu, dengan cueknya kita bertiga membuka makanan yang kita beli di 711 dan makan. Tiba-tiba, orang di sebelah Jeffri pergi. Hm...mungkin dia laper karena ngeliat kita makan atau BT karena kita daritadi bicara terus. Enggak tau, hanya Tuhan dan orang itu yang tau.
Selesai makan, kita langsung menuju platform 32. Ternyata bisnya belum datang. Akhirnya kita memilih untuk duduk di sekitar platform. Akhirnya kita menemukan orang asing, sepasang bule! Hore...enggak jadi orang asing sendirian. Nah, ada yang unik disini. Pertama, petugas di platform ini tegas. Kalo ada peraturan dilarang merokok berarti ya bener-bener enggak boleh merokok. Dan dia berani menegur siapapun yang melanggar, termasuk si bule itu. Wah..kalo di Indonesia kan peraturan dibuat untuk dilanggar ya. Beda banget. Kedua, kernet bisnya ternyata cewek lalu pakaian supir + kernetnya ala pilot dan pramugari. Supirnya pakai kemeja putih ala pilot, pakai celana bahan warna biru dongker. Lalu kernetnya pakai seragam ala pramugari warna jingga yang dari jauh udah bisa dikenali + pakai topi warna senada, pakai sepatu hak tinggi, dan dandan cantik. Ketiga, bis malamnya tingkat. Melihat bisnya tingkat, gue berdoa di dalam hati, semoga gue dapat kursi di tingkat 2 soalnya ngeliat pemandangan pasti akan lebih puas. Untungnya kita dapat tempat duduk di tingkat dua dan dekat jendela. Yes!
Bis Bangkok - Hatyai - Krabi
Perjalanan ke Hatyai akan menghabiskan waktu selama +- 12 jam. Untung gue duduk di sebelah Wanda jadi santai saja, tapi Jeffri duduk di sebelah bule yang kata dia bau badan dan si bule itu pake kaos lengan buntung. Jadi...jackpot deh dia hahaha...
Berdasarkan cerita antara Jeffri dan si bule yang ternyata berasal dari Perancis itu, si bule cuti 5 minggu atau 5 bulan gitu dari kantornya (enak banget yah...di Indonesia bisa apa kaya gitu??) dan dia habis jalan dari Amerika Latin. Katanya, Kostarika bagus. Dia juga cerita kalo dia habis dari Bangkok dan mau ke Phi-Phi Island. Cuma, si bule ini ternyata antimainstream, jadi dia pergi ke manapun tanpa rencana. Seperti misalnya, dia belum tau ke Phi-Phi Island harus naik apa, dan akan menginap dimana. Semuanya akan dia putuskan di tempat. Wajar aja sih, lha wong dia megang Euro yang harganya tinggi ampun-ampun di ASEAN, jadi ya santai-santai aja. Contoh kegilaan dia adalah, selama di Bangkok dia enggak pernah naik angkutan umum. Kemanapun pergi, dia selalu naik ojek dan katanya naik ojek lebih murah. Pertanyaan gue, darimana dia tau naik ojek lebih murah kalo menurut pengakuannya, dia enggak pernah naik kendaraan umum?? Apa harga ojeknya itu dibandingin sama harga ojek di Kostarika atau mungkin di Perancis? Kalau iya, ya pasti harga ojek Bangkoknya itu lebih murah. Dia juga cerita kalau dia pergi ke candi gratisan yang ada di sekitar Bangkok, lalu naik ke atasnya dan minum-minum di sana. Hm...
Ternyata, selama perjalanan pemandangannya biasa aja. Jalan tol, rumput, pohon, toko-toko, dan rumah. Gue merasa seperti perjalanan naik bis ke Jawa Tengah lewat jalur utara. Film yang diputar pun enggak menarik. Bagaimana enggak, lo nonton Van Diesel tapi suara orang Thailand. Gubrak! Van Diesel yang badannya keren, gede begitu tapi suaranya cempreng. Aduh...jatuh deh image kerennya. Untungnya, setiap penumpang dapat snack, satu botol air mineral ukuran 600 ml, dan satu botol kecil sirup jeruk. Rasa snacknya, lumayanlah, tapi rasa sirup jeruknya manis banget, persis seperti rasa sirup ABC rasa jeruk.
Karena enggak ada yang menarik, gue memilih untuk tidur. Ada selimut sih, tapi gue enggak tega buka plastiknya, lagipula enggak terlalu dingin juga sih. Jadi, selimut berplastik itu gue pakai untuk mengganjal punggung gue. Lagi enak-enak mau tidur, tiba-tiba gue mendengar suara orang muntah. Ternyata orang belakang gue. Aduh...langsung aja gue sumpel kuping biar enggak dengar. Kalau sampai dengar, bisa ikutan muntah gue. Untungnya enggak bau tapi tetap aja bikin gue panas dingin.
Sebenarnya gue menanti makan malamnya sih. Setiap bis berhenti, gue bangun. Sialnya, bisnya sering banget berhenti dan itu berarti gue jadi enggak nyenyak tidur. Tepat pukul 24.00 WIB bis berhenti untuk makan malam. Gue udah membayangkan akan makan yang hangat-hantat berkuah. Lalu, dengan semangat 45 turunlah gue dari bis dan duduk di kursi tempat ada makanan diletakkan di meja. Lalu, pelayan yang ada disitu menyuruh gue berdiri dan mengarahkan gue ke tempat yang ada display makanannya. Dia mengarahkan gue menggunakan bahasa Thailand. Sok ngertilah gue dan mengikuti saran dia. Menunya enggak menarik sih tapi ada makanan yang seperti nasi goreng jadi gue pilih itu. Setelah itu gue langsung menyerahkan kupon makananan. Tiba-tiba dia bilang 40 Baht. Ha? Bayar?? Gue tunjuk-tunjuk kupon dan dia menggeleng sambil tangannya nodong. Sial! Langsung melek mata gue dan maki-maki dalam hati. 40 Baht untuk nasi goreng rasa daun bawang? Huh! Ternyata bule itu juga ikut ketipu kaya gue. Dan..dari 1 bis, hanya gue dan bule itu yang ketipu. Grrrr...
Makanan gratisnya juga enggak kalah mengenaskan. Kata temen-temen gue, buburnya hambar, sayurnya juga, ikan terinya asin banget. Kata Jeffri, cuma sosis babinya yang mendingan. Untuk kali ini, Indonesia jauh-jauh lebih enak. Seumur-umur gue naik bis malam ke Magelang, enggak pernah gue dapat tempat makan yang mengenaskan seperti ini. Bahkan, untuk ke toilet pun elo harus bayar.
Gue naik bis dengan perasaan BT tingkat tinggi. Mulut gue rasa minyak dicampur daun bawang dan rasa ngantuk gue ilang. Untung gue bisa tidur di bis karena Wanda mau meminjamkan earphonenya.
Hari Keempat
Krabi
Begitu membuka mata, pemandangan yang gue lihat pertama kali adalah
batu-batu kapur yang ditumbuhi tanaman berwarna hijau setinggi langit.
Wah...sudah sampai Krabi. Yippie! Kalau menurut jadwal sih seharusnya kita
sudah tiba di terminal pukul 06.00 WIB, tapi ini sudah hampir pukul 07.00 WIB
dan gue belum melihat bangunan serupa terminal bis. Yah...telat jauh ini.
Suasana Krabi bisa dibilang tidak terlalu ramai. Entah karena ini masih
pagi atau memang penduduk Krabi sedikit. Jarak antar rumah pun tidak terlalu dekat
dan halamannya luas. Umumnya, setiap rumah memelihara anjing, minimal 1 ekor
dan mempunyai mobil. Bentuk mobilnya pun umumnya sama yaitu tipe-tipe seperti
Toyota Fortuner atau Mitsubishi Strada. Hal yang unik lagi yaitu kita akan
menemui cukup banyak tempat yang kalau di Indonesia mungkin disebut Kantor
Kelurahan atau Kantor Kecamatan. Ya, semacam pemerintahan desa gitu lah. Cuma
uniknya, tempat-tempat itu bentuknya seperti pagoda yang bertumpuk-tumpuk.
Semakin ke atas semakin kecil tingkatnya dan warnanya emas. Pagarnya berupa
pagar tembok yang tidak terlalu tinggi dan ada semacam papan pengumuman yang
mungkin memberitahu nama tempat itu. Gue enggak bisa baca karena menggunakan
tulisan Thailand.
Enggak lama, tiba juga bisnya di terminal. Ternyata terminalnya tidak
besar, bisnya pun jarang. Krabi memang kota kecil. Turun dari bis, kami
mengikuti instruksi dari Danang yaitu mencari seseorang yang membawa kertas
dengan tulisan Mr. Jeffri Minggar. Dari terminal ramai sampai terminal hampir
sepi, gue enggak melihat orang yang membawa tulisan. Teman-teman gue ternyata
juga engak melihat. Aduh, jangan-jangan kita ditinggal secara kita tiba di
terminal telat 1 jam. Aduh...ini kan bukan kesalahan kita. Ini salah bisnya.
Pasrah, bingung tapi tetap mencari. Entah bagaimana, tiba-tiba Jeffri memanggil
gue dan Wanda. Ternyata dia sudah menemukan orang yang dimaksud. Lha...orang
tersebut daritadi mondar-mandir di depan gue. Kok gue enggak lihat dia
bawa-bawa tulisan ya??
Gue ngebayangin kita naik mobil sejenis Mitsubishi Colt gitu ternyata
kita dijemput pakai Toyota Fortuner warna putih. Wow! Hahaha..norak. Jujur, gue
kaget sih. Ya..enggak ngebayangin aja kalau bakal dijemput dengan mobil seperti
itu. Lumayanlah...Tapi, kalau dipikir-pikir wajar sih, kan mobil tipe-tipe
seperti ini berseliweran di sini.
Gue pikir dengan mobil seperti itu, supirnya bisa lah bahasa Inggris.
Ternyata...sopirnya sama sekali enggak bisa bahasa Inggris. Tepok jidat deh
gue. Dia juga enggak banyak nanya, ya mungkin karena dia enggak bisa bahasa
Inggris. Sepanjang perjalanan, dari terminal sampai Ao Nang Hostel, dia diam
saja. Ya sudah lah, kita sendiri juga capek setelah melakukan perjalalan 12 jam
lamanya.
Untung lokasi hostel kita strategis, tepat depan McD. Hm..gue sebenarnya
ngebayangin hostelnya agak gede karena gambar di internetnya mewah kesannya.
Ternyata, hostelnya kecil (depannya). Tidak terlalu terlihat gitu. Tapi, ya
sudahlah. Moga-moga kamarnya nyaman.
Kita turun di seberang hostel. Danang bilang kita enggak perlu bayar
apapun. Tinggal naik mobil, duduk santai terus turun ketika sudah sampai
hostel. Udah gitu aja. Makanya, turun dari hostel pun kita santai-santai saja.
Tiba-tiba, supir itu memberikan bon. Oh...gue pikir dia Cuma mau kasih bukti
pembayaran. Ya udah, setelah nerima bon itu, gue langsung ngeloyor pergi.
Eh...dia mencegat gue. Melalui bahasa tubuhnya, kita harus bayar. HAH?! Asli,
jantung gue mau copot. Gue pengen ditelan bumi saat itu juga. Gue lihat total
yang harus kita bayar. 3000 Baht! Apa-apaan ini? Waktu itu Danang bilang kita
enggak perlu bayar apa-apa lagi karena pembayaran sudah dia bereskan dari
Indonesia. Kok ini kita disuruh bayar?? Mana kita enggak megang duit sama
sekali. Yang ada US dollar. Damn! Saat itu gue udah mau maki-maki Danang. Wanda
dan Jeffri pun mukanya tegang. Gue sama Wanda ngotot bahwa Danang bilang dia
sudah bayar. Kita juga nego sama dia untuk mengantar kita ke money changer
terdekat karena uang yang ada saat itu hanya USD, Baht hanya sedikit. Jeffri
sibuk nyari ATM. Melihat tingkah kita, sepertinya supir itu ikutan panik. Dia
lalu menelepon entah siapa, lalu dia menjelaskan dengan bahasa tubuhnya bahwa
ternyata kita tidak perlu membayar lagi. Terus, dia langsung pergi aja,
meninggalkan 3 anak dari Jakarta yang terbengong-bengong karena belum bebas
dari rasa kaget.
Setelah bebas dari rasa kaget, kita cepat-cepat menuju hostel. Disini
kita harus bayar hostel sebesar 1080 Baht. Nah..ini alasan kenapa tadi kita
panik, karena gue enggak megang Baht sama sekali, begitu juga Jeffri. Sedangkan
Wanda hanya pegang 1000 Baht lebih sedikit. Setelah membayar, kita langsung
diantarkan ke kamar. Suasana hostelnya agak gelap. Kamarnya juga begitu. Kamar itu terdiri dari 1
queen bed dan 2 single bed yang susun ke atas. Gue dan Wanda tidur di queen bed
itu dan Jeffri tidur di single bed. Jadi,enggak ada yang tidur di atas.
Kita hanya sempat ganti baju, cuci muka, dan sikat gigi sambil nunggu
jemputan. Agak santai sih emang. Terus, Jeffri iseng keluar, menanyakan
jemputan kita ke Phi-Phi Island. Ternyata, jemputan sudah datang dan sudah
menunggu kita dari tadi. Aduh...Langsung deh kita buru-buru. Begitu tiba di
mobil, gue agak enggak enak sama orang-orang yang sudah ada di mobil.
Ya...ngeliatin kita gitu, ada sih yang tampangnya BT, tampang kernetnya juga
agak-agak BT.
Pantai
Kita turun di pinggir pantai dan masih menunggu peserta tur yang belum
datang. Roman-romannya sih ada turis kesiangan seperti kita ini. Sambil
menunggu, gue makan nasi yang tadi udah beli di sevel. Nasi + ayam teriyaki
kalau enggak salah. Gue lapar tapi enggak tahu kenapa, gue enggak nafsu sama
makanan itu. Bosen mungkin ya...Tapi tetap saja gue habiskan, habis mubazir
kalau dibuang. Sambil makan, mat ague jelalatan melihat turis-turis yang lain.
Hm...ada yang aneh dengan kita, tapi apa ya? Ya ampun! Kita lupa bawa handuk,
sun block, dan air minum. Pantes turis-turis yang lain barang bawaannya banyak.
Lah..diantara kita bertiga, yang membawa tas cuma gue, itupun tas tangan kecil.
Dan..ternyata teman-teman gue sangat Indonesia. Mereka menggunakan baju yang
menunjukkan Indonesia banget. Jeffri menggunakan kaos dingin bertuliskan Jogja
sedangkan Wanda menggunakan kaos dingin bertuliskan Bali. Turis yang lain?
Tulisan di kaosnya rata-rata I love Krabi, Thailand, atau gambar gajah.
Wehehe...anti mainstream.
Akhirnya peserta tur lengkap. Hore! Udah enggak sabar gue melihat
Phi-Phi Island. Dengan semangat 45 gue mengikuti pemandu tur. Kita naik boat.
Apabila ingin masuk boat, sandal harus bersih dan pakaian harus bersih. Di dalam
boat, ada Ibu-Ibu yang memperkenalkan diri sebagai pemandu tur. Bahasa
Inggrisnya? Ya Tuhan...ancur banget. Gue sama sekali enggak paham setiap kata
yang dia ucapkan. Ternyata bukan hanya gue, peserta tur yang lain sepertinya
sama saja. Udah begitu, Ibunya galak lagi. Ho..
Bamboo Island
Dengan penuh kesabaran, gue dan Wanda berusaha memahami omongan Ibu itu.
Kita benar-benar menyimak setiap omongan dan gerakannya lalu saling
menerjemahkan. Ternyata, kita mendapat minum gratis. Satu orang dapat satu air
mineral botol ukuran 600 ml. Lalu nanti, akan ada snorkeling, tapi itu nanti
ketika di Phi-Phi Island dan itu pun pukul 15.00 WIB. Ini karena pada pukul
segitu, laut sedang tenang. Sebelumnya, kita akan melihat beberapa pulau.
Pulau
pertama yang kita kunjungi adalah Bamboo Island. Ketika tiba, lha...mana pohon
bambunya? Menurut dia, di tempat ini, dahulu, banyak terdapat bamboo. Tapi
sekarang sudah habis karena dieksploitasi untuk pembangunan di Phi-Phi Island.
Kemudian, boat kita berhenti di Bamboo Island dan kita diberi waktu sekitar 30
menit untuk melihat-lihat pulau itu. Entah kenapa, gue merasa pulau itu biasa
aja. Enggak ada yang menarik. Pantai putih yang pasirnya halus, dan pohon
kelapa. Udah, gitu aja. Entah karena waktunya dibatasi jadi gue enggak bisa
mengexplore lebih dalam lagi atau memang pulau ini tidak indah. Tapi, gue
berusaha untuk menikmati. Untung pemandangannya cukup bagus. Jadi, berburu foto
lah kita, menambah pundi-pundi kamera.
Eh...ketika lagi main ombak, tiba-tiba
sandal Wanda terbawa ombak. Wanda mengejar dan ternyata dia ikut terbawa ombak
juga. Ternyata ombaknya gede juga ya, padahal kita masih di pinggir pantai. Gue
berusaha menolong dan...gue ikut jatuh juga. Sialnya, lensa kamera gue masih
terbuka dan terkena cipratan air laut. Enggak lama, lensanya langsung enggak
bisa dibuka. Aaaahhh... perjalanan yang gue tunggu-tunggu baru saja dimulai dan
kamera gue rusak. Oh..No! Gue BT banget. Gue bersihkan air laut dan pasir yang
masih menempel di kamera menggunakan baju gue yang masih belum basah. Enggak
bisa...T-T. Lensanya tetap enggak mau membuka. Yah...wassalam deh kamera gue.
Untung masih ada kamera Jeffri, jadi dokumentasi liburan masih aman lah.
Ruginya, gue enggak bebas meng-explore foto-foto selama liburan karena
kameranya terus dipegang sama Jeffri. Ya iyalah, itu kan kamera dia, lagipula
gue agak takut juga sih kalau kamarenya gue pegang, nanti ikutan rusak juga
lagi seperti kamera gue. Wah...bahaya tingkat tinggi itu. Keuntungannya, Jeffri
jadi seksi dokumentasi utama, jadi...kita tinggal bergaya, pilih lokasi yang
kita inginkan lalu panggil dia untuk memotret kita. Enggak usah repot hehehe...
Maya Beach
Kemudian boat berjalan menuju
Maya Beach. Maya Beach adalah lokasi syuting film “The Beach” yang dimainkan
oleh Leonardo D’Caprio.
Impian untuk menikmati pantai itu sirna sudah.
Pantainya penuh dengan turis. Padahal pantainya bersih, pemandangannya juga indah. Ah....menyebalkan. Kita juga Cuma diberi waktu
sekitar 35 menit untuk melihat-lihat. Ah...padahal gue ingin mengelilingi
pantai itu dan masuk ke dalam gua. Jadilah kita hanya melihat-lihat dan
memotret objek.
Monkey Bay
Setelah itu, boat kembali berlayar dan kali ini menuju Monkey Bay. Di
pantai ini banyak terdapat monyet. Monyetnya seperti monyet yang ada di
Indonesia, yang suka dijadikan topeng monyet. Dan...tiga ABG cewek itu, dengan
noraknya bilang bahwa monyet-monyet itu lucu dan mereka ingin memelihara. Are
you sure?? Enggak tahu aja dia kalau monyet bandelnya selangit. Lalu mereka
langsung sibuk foto-foto. Hanya mereka yang sangat tertarik dengan monyet.
Turis-turis yang lain tanggapannya datar-datar saja, termasuk kita.
Phi-Phi Island
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Waktunya makan siang dan memang
benar, kami akan makan siang di Phi-Phi Island. Yes! Gue udah enggak sabar
melihat Phi-Phi. Tidak lama, kita tiba di sebuah pulau yaitu Phi-Phi Island.
Pulau yang satu ini lebih ramai dibanding pulau-pulau yang lain. Mungkin karena
lebih luas sehingga banyak orang yang tinggal di tempat ini. Banyak café di
sepanjang pinggiran pantai tapi sayang kita tidak makan siang di tempat itu, padahal
pemandangannya bagus. Kita makan di sebuah restoran tingkat dua. Gue agak
was-was juga nih, takutnya enggak gratis. Jadi setelah mencari tempat duduk
untuk bertiga, gue menunggu reaksi dari pengunjung yang lain. Gue liatin mereka
satu per satu. Ok, makanannya gratis, minumannya juga, dan buahnya juga. Ambil!
Makanan yang disajikan adalah nasi putih, sayur seafood yang terdiri
dari udang, cumi, aneka sayuran dan kuahnya asam pedas, ada ayam goreng, dan
spaghetti. Untuk buah, kita diberi 3 buah semangka yang telah dipotong
kecil-kecil. Minumnya gratis jadi gue ambil kesempatan untuk mengisi ulang
botol air masing-masing. Memang sih masing-masing mendapat jatah 1 botol air
mineral tapi dengan cuaca terik seperti ini dan habis berenang, 1 botol enggak akan cukup.
Mencari tempat Sholat
Selesai makan, Wanda ingin sholat. Kemudian dia bertanya kepada petugas
restoran dimana letak moslem prayer.
Ternyata mereka tidak mengerti. Waduh. Hm...mungkin dia bukan beragama Islam
jadi kurang paham. Akhirnya gue dan Jeffri menemani Wanda mencari Mesjid. Kita
pun berusaha bertanya kepada orang asli pulau ini. Apalabi ini adalah Thailand
Selatan yang mana banyak orang yang beragama Islam. Kebetulan hari itu adalah
Jumat, kita juga melihat pria-pria menggunakan kopiah dan sarung untuk sholat
Jumat.
Wanda lalu Wanda bertanya kepada penduduk pulau ini. Dia bertanya
tentang Moslem Prayer, ternyata dia tidak paham. Lalu kita bertanya kepada
orang lain yang masih penduduk asli. Gue coba bilang Moslem prayer sambil
memeragakan gerakan sholat, dia bingung. Tapi ada orang yang sepertinya paham,
lalu kita ditunjukkan arah. Ternyata arahnya salah. Yang dia tunjukkan
sepertinya bukan Mesjid. Kita enggak menyerah. Kita bertanya lagi kepada orang
lain, kali ini menggunakan kata Sholat, enggak paham. Bilang Mosque, enggak
mengerti. AKhirnya gue iseng bilang Mesjid, eh...dia paham. Ya ampun. Ternyata
tempat ibadah umat Muslim disini dikenal dengan nama Mesjid. Sebelas duabelas
dengan bahasa Indonesia. tidak paham.
Lalu kita ikuti petunjuk dari orang tersebut. Kebetulan di tengah jalan
kita bertemu dengan seorang bapak berkopiah dan bersarung mengendarai sepeda
secara terburu-buru, sepertinya mau Sholat. Kita pun mengikuti dia. Sayangnya
dia cepat sekali mengendarai sepedanya. Tapi paling tidak kita sudah tahu
arahnya. Tinggal lurus saja. Tapi lurusnya jauh banget, jalannya agak menanjak
lagi Lumayan menguras tenaga. Akhirnya tiba juga di sebuah Mesjid. Mesjidnya
tidak terlalu besar, letaknya pun bukan di pinggir jalan dan mojok.
Menunggu Wanda Sholat, gue dan Jeffri pun jalan-jalan ke sekeliling
Pulau. Kebetulan waktu yang diberikan di Pulau ini lumayan banyak. Pulau ini
jalanannya dilapisi batu-batu kali. Jalannya kecil, hanya cukup untuk 2 sepeda.
Untuk transportasi darat, gue belum melihat sepeda motor. Kebanyakan
penduduknya menggunakan sepeda atau berjalan kaki. Di sepanjang pinggir pantai
dipenuhi kafe-kafe. Air bersih dijajakan menggunakan jeriken besar berwana
putih yang ditarik menggunakan gerobak bersih. Persis seperti orang yang berjualan
air bersih di kampung-kampung yang ada di Jakarta. Penduduk pulau ini mayoritas
beragama Islam sehingga mudah sekali ditemukan makanan halal di tempat ini.
Meskipun begitu, tetap saja banyak cewek-cewek berbikini jalan dengan santainya
di tempat ini. Banyak juga terdapat bar, tapi karena kita datang ketika hari
masih siang, maka bar-bar tersebut belum buka.
Ketika jalan-jalan, gue menemukan seekor anjing pudel berwarna krem. Gue
pun menyempatkan foto dengannya. Anjingnya jinak. Gue pegang nurut-nurut aja.
Setelah itu, kita main ke pinggir pantai. Ternyata enggak bisa duduk santai di
pinggir pantai karena banyak perahu nelayan yang ditambatkan. Meskipun begitu
kita puas foto-foto karena pemandangannya bagus. Air lautnya biru
kehijau-hijauan, langitnya biru cerah. Perpaduan yang menyegarkan. Duduk-duduk
di pinggir pantai juga asyik apalagi sambil ditemani hembusan lembut angin
pantai. Bikin ngantuk.
Puas menikmati pantai, kita kembali ke tempat Wanda. Lha..sudah bubar.
Waduh..Wanda kemana ya? Harus menghubungi dia menggunakan apa? Kita sama sekali
enggak membawa alat komunikasi. Akhirnya kita putuskan untuk menyusuri jalan
setapak menuju restoran tempat tadi kita makan. Tidak lama, kita melihat Wanda
sedang berjalan dari arah berlawanan. Lho...kok dari situ? Bukannya Mesjid di
belakang kita. Ternyata, dia sudah selesai dari tadi dan mencari-cari kita. Ya
wajar sih dia enggak menemukan kita karena pantai yang kita kunjungi letaknya
di bawah jalan setapak yang biasa dilalui. Karena Wanda kelelahan, kita
beristirahat dulu di salah satu kafe di pinggir pantai. Hm..gue rasa kalau
malam tempat ini akan lebih indah dan hidup. Pengen rasanya menginap di pulau
ini.
Oh ya, ternyata baju seragam anak perempuan di pulau ini mirip seragam
pelaut. Kerahnya seperti kerah baju Sailor Moon, warna biru putih. Lucu.
Dan..ternyata, gerobak yang dipergunakan
untuk mengangkut jeriken air, dipergunakan juga untuk mengangkut koper
turis-turis yang mau menginap. Satu lagi, penduduk pulau ini lebih mirip orang
Melayu campur India dan tidak ada kucing di tempat ini.
Setelah itu, kita bertemu rombongan satu boat. Lalu bersama-sama menunggu kedatangan Ibu-Ibu pemandu bawel
itu untuk menjemput kita. Kalau awalnya kita enggak puas karena waktunya
terlalu cepat, sekarang kita bosan menunggu dijemput.
Snorkeling
Akhirnya datang juga Ibu pemandu kita. Lalu dia menjelaskan dengan
bahasa Inggrisnya yang aneh bahwa sebentar lagi kita akan snorkeling. Hore!! Boat berhenti di tengah laut dan satu
per satu penumpang nyebur ke laut.
Gue pun juga begitu. Entah kenapa, ketika sudah berenang dan melihat ke dalam
air laut, gue langsung teringat trauma masa kecil ketika tenggelam di laut.
Dada gue langsung sesak, kepala pusing dan hilang konsentrasi. Gue jadi seperti
orang yang enggak bisa berenang. Gue merasa diri gue akan tenggelam padahal
jelas-jelas gue pakai pelampung. Damn! Kenapa trauma ini muncul di saat yang
tidak tepat. Gue datang kesini untuk senang-senang bukan untuk takut. Beberapa
kali air laut masuk ke mulut. Gue udah mau menyerah tapi untung ada Wanda. Dia
menenangkan gue dan bilang dia akan membimbing gue. Pelan-pelang gue bisa
menguasai diri dan mencoba untuk snorkeling. Lama-lama keberanian gue muncul
dan gue sudah agak lancar snorkeling. Ketika tengah menikmati snorkeling,
waktunya habis karena kita akan snorkeling di tempat lain. Yah..baru aja gue
menikmati. Akhirnya gue naik lagi ke boat.
Area snorkeling kali ini sepertinya di tempat yang lebih dangkal
daripada tempat sebelumnya karena kita bisa melihat karang. Bahkan, gue yang
tidak terlalu tinggi saja bisa menginjak karang. Kali ini keberanian gue sudah
meningkat dan rasa penasaran sudah menguasai diri. Rasa takut sudah menipis. Gue
sudah bisa snorkeling sendiri, meskipun belum berani jauh-jauh dari kapal dan
dari Wanda. Ketika lagi asyik snorkeling, tiba-tiba gue melihat benda berwarna
hitam di dasar laut. Karena gue enggak menggunakan kacamata maka penglihatan
gue tidak terlalu jelas. Gue semakin mendekat ke benda itu. Semakin didekati
ternyata benda berwarna hitam itu semakin banyak. Ada yang besar ada yang
kecil. Lebih banyak yang kecil dibanding yang besar. Hm...kayaknya gue kenal
dengan benda itu. Arrrgg.. itu bulu babi dan jumlahnya banyak banget! Ini sih
namanya peternakan bulu babi. Bodohnya, gue langsung panic. Gue langsung
teringat bahwa bulu babi itu berbahaya. Ketika panik, tubuh gue langsung kaku.
Tapi gue paksakan agar sampai ke boat. Setelah
sampai di dekat kapal, gue langsung naik dan enggak mau turun lagi. Ternyata di
dalam kapal, ada penumpang yang terkenal bulu babi. Langsung lemas dan
bersyukur melihat hal itu. Untung bukan gue atau teman-teman gue yang kena,
bisa repot nanti.
Tidak lama, semua penumpang diminta untuk naik. Lalu di tengah perjalanan, kami diberi buah nanas dan
semangka. Nanasnya enak, manis. Habis makan, mata penumpang langsung menyipit.
Hembusan angin laut, perut kenyang, dan tubuh lelah habis snorkeling merupakan perpaduan
mantap untuk merasa mengantuk.
Pulang
Perjalanan pulang tidak terlalu
lama. Tiba juga kita di tempat awal. Sebelum turun, Ibu pemandu tiba-tiba
mengeluarkan kotak sumbangan. Dimana-mana yang namanya sumbangan adalah memberi
seiklhasnya. Ternyata, Ibu itu sudah menuliskan jumah sumbangan yang harus
dibayar setiap penumpang yaitu sebesar 100 Baht. Ha? Untungnya kita duduk dekat
pintu keluar, jadi ketika kotak sumbangan sampai di kami, gue dan Wanda
bertingkah seolah-olah memasukkan uang ke kotak sumbangan padahal tidak ada
uang yang kami berikan. Rupanya tingkah kami diikuti oleh keluarga India di
sebelah kami. Setelah itu, kami buru-buru turun dan tidak menoleh ke belakang.
Ketika turun, ada yang aneh pada tempat kapal berhenti. Sepertinya kapal
tidak berhenti di tempat semula. Ternyata, air laut sedang surut sehingga kita
dikelilingi hamparan pasir pantai yang berwarna putih dan krem. Wah...indah.
Kita pun menyempatkan diri untuk berfoto. Setelah itu, kita buru-buru mencari 3
anak ABG tadi karena mereka satu mobil dengan kami. Sebenarnya banyak yang satu
mobil dengan kami, tetapi yang kami hapal hanya mereka bertiga.
Kami tidak menemukan mereka tapi kami menemukan sekumpulan mobil jemputan.
Masalahnya, kami tidak tahu mobil mana yang akan membawa kami kembali ke hostel
karena semua mobil bentuk dan warnanya sama. Untungnya, sticker yang tadi
diberikan di awal tur masih menempel di baju gue, dan itu menjadi penunjuk yang
penting.Kami pun dibawa ke sebuah mobil lalu disuruh menunggu yang lain. Benar
saja, tidak lama beberapa anggota rombongan yang tadi satu boat kembali bertemu dalam satu mobil jemputan. Ketika perjalanan
kembali ke hostel, kami melewati tempat yang penuh dengan toko suvernir.
Wah...malam ini kita harus ke tempat ini sebab masih ada oleh-oleh yang belum
kami temukan.
Tiba di hostel, hal pertama yang kami lakukan adalah menjemur kamera dan
handphone serta pakaian yang kami kenakan. Untung hostel ini mempunyai beranda
yang cukup luas dan mendapat sinar matahari yang cukup. Kami lalu mengambil
kursi dan meletakkan barang-barang tersebut di atas kursi lalu menempatkan di
tempat yang terkena sinar matahari langsung. Berasa menjemur barang di rumah
sendiri. Tidak lama, ada suara langkah kaki dan percakapan. Sepertinya penghuni
kamar yang letaknya tepat di sebelah beranda sudah datang. Kami pun cepat-cepat
masuk ke kamar. Tapi...setelah dipikir-pikir, tidak aman rasanya meninggalkan
barang-barang elektronik di luar pengawasan, jadi kami ambil lagi barang-barang
elektronik itu dan kami jemur di kamar. Tidak efektif sih karena kamar kami
sama sekali tidak mendapat sinar matahari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika kami selesai merapikan
diri, merapikan tas dan bawang bawaan dan selesai melakukan perhitungan uang.
Perut sudah berbunyi, Sudah menagih minta diisi. Kami pun memutuskan untuk
jalan-jalan ke sekitar pantai sambil mencari makan malam di daerah sekitar
Krabi. Kali ini, kam ingin mencoba makanan yang dijual di pinggir jalan, bukan
yang dijual di restoran tetapi yang dijual di gerobak yang menggunakan motor.
Ketika keluar, suasana jalanan lenggang sekali. Mungkin karena waktu kami pergi
bukan peak season sehingga suasana
tidak terlalu ramai. Restoran pun banyak yang sepi. Ini menguntungkan kami atau
mungkin tepatnya gue karena gue enggak terlalu suka tempat yang ramai. Gue
sangat menikmati jalan di tempat yang tidak terlalu ramai.
Trotoarnya besar sehingga gue menikmati perjalanan malam hari ini.
Sambil berjalan, kami mencari-cari tempat money
exchange. Cukup banyak dan berdasarkan tulisan di kacanya, mereka tutup
antara pukul 23.00 – 24.00 WIB. Berarti masih ada waktu untuk menukarkan uang.
Kalau begitu, sekarang waktunya mencari oleh-oleh. Maka tujuan utama kami saat
itu adalah kumpulan toko suvernir yang tadi kami lewati. Semoga tidak terlalul
jauh.
Berjalan sambil mengobrol memang mempersingkat waktu. Tanpa terasa kami
sudah tiba di toko-toko suvernir. Kami keluar masuk toko suvernir, mencari
barang dan harga yang cocok. Ternyata harga di MBK jauh lebih murah. Berarti
untuk membeli oleh-oleh khas Thailand, lebih baik ke MBK saja. Meskipun begitu,
kami tetap membeli beberapa oleh-oleh dari tempat ini.
Dari pengalaman berbelanja, ternyata kami, tepatnya gue dan Wanda
menemukan bakat terpendam Jeffri yaitu bakat menawar. Dia jago banget menawar
barang. Harga yang dia dapat pun bisa setengah dari harga asli dan itu didapat
tanpa konfrotasi. Nawarnya pelan, santai, tiba-tiba harga sudah turun. Seumur
hidup, gue baru nemu 2 cowok yang enggak
gengsi nawar yaitu bokap dan dia. Gue? Enggak pernah bisa nawar dan apabila
mencoba, harga yang turun hanya sedikit. Pernah sih mencoba menawar sampai
setengah harga, yang gue dapat bukan harga diturunin malah diomelin.
Huhu...emang enggak bakat nawar. Jadi selama belanja, gue dan Wanda yang milih
barang lalu ketika sudah sampai penentuan harga, Jeffri yang maju dan kita
mundur. Ketika harga sudah sepakat, gue dan Wanda yang maju untuk bayar.
Ada pengalaman berkesan ketika kita berbelanja di salah toko suvernir di
Krabi. Ketika lagi melihat-lihat tas, seorang pramuniaga dengan wajah India
yang manis mencoba menerka usia gue dan Wanda. Dia bilang umur Wanda 16-17
Tahun sedangkan gue berusia 19-20 Tahun. Wow...muda banget. Kita pun tertawa
dan menyebutkan umur asli kita. Dia pun kaget ketika mengetahui usia asli kami.
Ternyata dia sendiri masih berusia 16 tahun. Lalu tiba-tiba dia menceritakan
hidupnya.
Dia adalah seorang gadis kelahiran dan keturunan Nepal. Ketika kecil dia
sempat pindah ke India atau Bangladesh gitu, gue lupa, kemudian dia dan
keluarganya pindah ke Thailand. Saat ini dia tidak bersekolah dan sepertinya
sangat ingin bersekolah karena setiap menyebut kata-kata sekolah atau kuliah,
matanya selalu berbinar-binar dan mulutnya selalu tersenyum. Tapi itu tidak
berlangsung lama karena seketika itu juga sinar matanya langsung redup dan
senyumnya langsung menghilang ketika dia mengingat bahwa dirinya sudah tidak
sekolah. Dia mengira kami bertiga adalah saudara karena kami selalu bercanda
sepanjang perjalanan. Wow..rupanya daritadi dia memperhatikan kami.
Dia juga mengatakan bahwa kami beruntung karena masih bisa sekolah dan
masih bisa jalan bersama teman-teman sebaya. Ketika dia mengatakan itu, suasana
langsung hening. Kami tidak tahu harus berkata apa begitu juga gadis itu. Kami hanya
saling memandang. Lalu gadis itu memecah kebekuan dengan menanyakan apakah kami
jadi membeli tas atau tidak. Tiba-tiba dia dipanggil oleh bosnya yang
sepertinya lady boy. Dari pembicaraan
mereka, sepertinya bos itu tidak suka kami berlama-lama di tokonya tanpa
membeli apapun. Sepertinya dia disuruh untuk segera menentukan harga. Kenapa
kami tau? Karena gadis itu menceritakan kembali kepada kami perkataan bosnya,
tapi dalam bahasa Inggris. FYI, bahasa Inggris gadis ini bagus banget. Lancar
pula. Kami pikir dia pernah belajar bahasa Inggris secara khusus, ternyata
tidak. Dia belajar bahasa Inggris secara otodidak dari TV. Wow! Kami pun
tertawa mendengar pengakuannya. Gadis itu juga tertawa. Sepertinya dia
menikmati obrolan diantara kami karena dia selalu tertawa lepas dan matanya
berbinar-binar ketika kami bercanda. Sepertinya si bos tidak bisa bahasa
Inggris sama sekali tapi sepertinya dia tahu kami membicarakan dia karena
matanya menatap tajam kepada kami, sambil mondar-mandir menata dagangannya.
Semoga setelah kami pergi, gadis ini tidak diomeli. Kami pun membeli barang
dagangannya. Tuhan, lindungilah gadis ini. Berikan yang terbaik kepadanya. Dia
gadis yang pintar, tidak seharusnya dia berada di tempat itu.
Tidak jauh dari toko tersebut, kami tertarik pada suatu gerobak yang
ditarik oleh motor. Sepertinya makanan yang dijual enak. Ternyata benar. Dia
menjual ayam goreng. Wah...ayam goreng, sudah lama kita tidak makan ayam
goreng. Tiba-tiba Jeffri bilang dia ingin mentraktir. Wah...kenapa ini anak? Kenapa
tiba-tiba jadi baik begini? Tapi gue enggak mau bertanya macam-macam, takut dia
berubah pikiran. Kesempatan yang langka dia mau mentraktir hehehe...Kami
membeli ayam goreng dan nasi. Ternyata nasinya adalah nasi ketan. Harga makanan
ini tidak terlalu mahal, hanya120 Baht untuk 3 orang.
Selama perjalanan pulang, kami melihat beberapa ada iklan berjalan
menggunakan mobil. Isi iklannya adalah mengenai pertandingan thai boxing dan
pertunjukkan cabaret. Sebenarnya sih gue dan Wanda pengen banget nonton cabaret,
tapi kita takut uangnya enggak cukup, padahal masih ada tujuan selanjutnya.
Lagipula badan rasanya rontok, ingin istirahat. Jadilah kita mengurungkan niat
itu.
Keinginan kita untuk menukar uang pun harus ditunda karena money exchange sudah tutup. Wah...tutup
sebelum waktunya tuh karena pada tulisan yang terpampang di kaca, beberapa dari
mereka seharusnya tutup pukul 24.00 WIB dan waktu baru menunjukkan pukul 22.00
WIB. Beberapa toko pun ada yang sudah tutup. Wah..sudah waktunya kembali ke
hostel nih. Sebelum tiba di hostel, tiba-tiba Wanda ingin membeli es krim.
Malam di Krabi ditutup dengan indah oleh kami dengan makan es krim.
Hari kelima
Pukul 06.00 WIB. Apa?! Kami telat bangun!!! Seharusnya pukul 06.00 WIB kami
sudah harus ada di depan hostel karena akan dijemput oleh travel tepat pukul
segitu. Tapi, saat ini, pada pukul 06.00 WIB, kami baru bangun! Kami langsung
loncat, ganti baju, memasukkan barang-barang elektronik, dan merapikan kamar.
Suasana kamar sudah sangat kacau. 3 orang mondar-mandir dalam suasana tegang.
Jeffri turun terlebih dahulu untuk melihat keadaan. Ternyata benar, jemputan
kami sudah tiba dan wajah supirnya sudah ditekuk. Jeffri pun menjelaskan dan
dia memberi kami tenggat waktu 5 menit. Selesai merapikan kamar, gue dan Wanda
segera lari ke mobil. Ternyata di dalam mobil sudah banyak penumpang. Kami
diletakkan di deretan bangku kedua dari belakang.
Krabi-Hatyai
Setelah menjemput kami, mobil tersebut melaju ke hostel lain.
Penumpangnya ternyata sudah menunggu di luar hostel Aduh..jangan-jangan
mobilnya telat karena kami. Kemudian, mobil ini kembali menjemput penumpang di
hostel lain. Nah...penumpang kali ini sama seperti kami, telat bangun. Kenapa
gue bisa ngomong begitu, pertama karena nunggu dia turun hostel lama banget.
Kedua, ketika dia turun dari hostel, dia hanya mengenakan kemeja warna putih
agak transparan diatas lutut, rambut dan wajahnya pun masih acak-acakkan. Setelah
itu, mobil ini melaju menuju Hatyai.
Untuk menuju Penang, Malaysia, siapapun yang dari Krabi harus melalui
Hatyai. Kendaraan yang ada pun sepertinya hanya mobil travel, karena sepanjang
perjalana, gue enggak melihat angkutan umum seperti bis. Isi mobil travel itu
kebanyakan orang Malaysia. Di bagian paling belakang ada 3 orang berwajah India
tapi sepertinya orang Malaysia karena logat mereka. Di depan kami, ada 3
perempuan keturunan Cina. Di depannya lagi ada bule. Beragam sekali isi mobil
ini. Tidak lama, orang Malaysia keturunan India itu turun lalu digantikan oleh
pria-pria bertampang melayu berlogat Malaysia. Sepertinya mereka tentara
Malaysia yang habis latihan atau habis menjaga perbatasan. Hm...gue enggak tahu
apakah mereka sombong atau tidak paham karena setiap gue Tanya pakai bahasa
Inggris, mereka enggak pernah jawab.
Makan Siang
Untung mobil ini berhenti sebentar untuk makan atau sekedar ke toilet
sebab gue sudah sangat ingin pergi ke toilet. Begitu mobil berhenti, gue segera
menuju toilet. Setelah itu, kita makan.
Wah...ada soto. Sepertinya lezat tuh. Gue segera membeli soto itu.
Sepertinya nikmat karena wangi dan panas. Baru menyuap beberapa sendok, Wanda
langsung mengajak menuju mobil karena rombongan kita sudah tidak nampak.
Oh..ternyata cuma sebentar berhentinya. Ketika sampai di mobil, penumpang sudah
penuh. Tapi waktu kita tiba tepat kok karena penumpang lagi pada naik mobil.Makan
siang di tempat ini enak dan murah. Harganya makanannya berkisar antara 30-40
Baht sedangkan teh tarik sebesar 15 Baht. Toiletnya pun bersih dan gratis.
Perjalanan ke Hatyai pun dilanjutkan. Pemandangannya tidak menarik.
Hanya toko dan rumah. Kemudian, kami diturunkan di sebuah ruko. Ternyata itu
adalah tempat mobil jemputan kami yang akan menuju Penang. Beberapa dari
penumpang turun.
Hatyai
Di ruko tempat travel ini bernaung, kami diminta mengeluarkan paspor.
Kemudian paspor kami dicatat. Tidak lama, paspor kami dikembalikan. Kami akan
berangkat pukul 14.00 WIB. Mulai dari sini, jangan lupa untuk memajukan waktu 1
jam karena wilayah ini sudah menggunakan WITA (Waktu Indonesia bagian Tengah).
Karena masih lama, gue dan Jeffri memutuskan untuk pergi belanja ke 711
terdekat. Niat awalnya sih mau beli biscuit Ovaltine titipan Danang, tapi
ketika di 711, kami malah beli aneka macam coklat kecil-kecil untuk oleh-oleh
kantor dan tidak lupa biscuit Ovaltine untuk kami sendiri. Kami pun masih
sempat foto-foto keadaan di Hatyai.
Hatyai adalah kota kecil yang rapi. Trotoarnya memang kecil tapi ada dan
bisa dipergunakan untuk jalan kaki. Pertokoannya berjajar rapi. Kami hampir
tidak menemukan sampah berserakan di sini. Ketika tiba di ruko, penumpang mobil
travel kami sudah lengkap. Ternyata, di dalam satu mobil travel yang menuju
Penang, hanya kami yang berasal dari Asia, sisanya adalah bule. Eh..bukan hanya
kami deh yang Asia, supirnya juga Asia.
Travel ini lebih nyaman dibanding travel dari Krabi ke Hatyai. Lebih
lega. Entah karena kami duduk paling belakang atau memang mobilnya lebih besar.
Sepanjang perjalanan, supirnya menyetel lagu-lagu Cinta tahun 80-an.
Hatyai –Penang
Perjalanan dari Hatyai – Penang memakan waktu 2- 3 jam. Kita juga akan
melewati pemeriksaan yaitu pemeriksaan di dua pos imigrasi dan satu pemeriksaan dari aparat.
Pemandangan kanan –kiri dari Hatyai-Penang cukup beragam. Dari rumah, pertokoan,
pohon yang cukup tinggi dan lebat, bukit –bukit berwarna kehiijauan hingga patung Budha
raksasa.
Sepanjang perjalanan, gue hanya tidur-tidur ayam. Tidak tenang karena
belum menghadapi pos pemeriksaan. Gue selalu ingat-ingat pesan Danang untuk
enggak jadi rombongan paling akhir.
Akhirnya tiba juga kita di pos pemeriksaan imigrasi Thailand. Suasananya
seperti gerbang tol. Mobil kami berhenti di suatu tempat, lalu kami diminta
untuk turun. Sebelumnya, kami sudah menyiapkan paspor di tempat aman tapi muda
dijangkau. Kami diberitahu supir untuk menuju ke loket yang ia tunjuk.
Rombongan mobil pun langsung cepat-cepat menuju loket yang dimaksud.
Selama menunggu antrian, gue sepertinya paham alasan Danang menyuruh kita untuk tidak berada di baris antrian terakhir. Di loket pemeriksaan, tertera jam kerja petugas. Apabila kita tiba di loket setelah jam kerja, maka kita akan dikenakan biaya tambahan sedangkan pemeriksaan selama jam kerja gratis alis tidak dipungut bayaran sama sekali.
Tiba juga giliran gue. Majulah gue dan mengikuti instruksi yang diminta. Gue pikir petugas imigrasi tidak akan bertanya, hanya memeriksa saja. Ternyata, perkiraan gue salah. Petugas tersebut menanyakan alasan gue ke Penang, berapa lama dan akan tinggal dimana. Setelah gue jawab bahwa gue di Penang hanya 2 hari 1 malam dan gue sudah punya tempat menginap, petugas tersebut mengangguk puas. Apakah gue dikira mau jadi TKI mentang-mentang gue dari Indonesia?
Selesai pemeriksaan, gue menunggu teman-teman yang masih mengantri. Ternyata, mereka tidak ditanya apapun. Walah... Kemudian, kita langsung mencari mobil travel yang tadi kita tumpangi. Sebenarnya gue ingin ke toilet, tapi gue takut ditinggal. Lagipula, keadaan di pos pemeriksaan ramai dan gue takut nyasar. Jadi...tahan aja deh. Nanti saja di pos pemeriksaan selanjutnya.
Tidak lama berjalan, kita tiba di pos pemeriksaan Malaysia. Ternyata, di tempat ini, kita diminta untuk membawa semua barang bawaan. Pemeriksaannya seperti di bandara namun tidak terlalu ketat. Pemeriksaan oleh petugas pun tidak terlalu ketat. Selesai pemeriksaan, gue ingin pergi ke toilet. Selain karena 'panggilan alam', gue ingin melihat kebersihan toiletnya.
Bayangan gue bahwa toilet di pos imigrasi Malaysia bersih dan wangi salah total. Sebenarnya keadaan toilet tersebut biasa saja. Terdapat 3 bilik toilet dengan seluruh ruangan dilapisi keramik berwarna coklat. Masing-masing bilik memiliki pintu yang berwarna coklat pula. Yang membuat toilet itu menjadi jorok karena keran air di setiap bilik toilet mati sehingga pengunjung mengambil air dari wastafel menggunakan ember. So..bisa dibayangkan betapa becek lantai toilet saat itu.
Pancuran air dari keran di wastafel pun tidak besar sehingga tidak semua pengunjung mau menunggu untuk mengambil air. Maka hasilnya toilet bau pesing. Tissue pun berceceran dimana-mana. Gue menyesal banget masuk toilet di tempat ini tapi karena 'panggilan alam' yang sangat mendesak, gue paksakan untuk tetap menggunakan toilet tersebut. Hasilnya adalah gue muntah. Ternyata, toilet di luar negeri belum tentu lebih bagus dibanding toilet di Indonesia. Gue cepat-cepat menyelesaikan urusan di toilet itu dan segera keluar untuk menghirup udara segar.
Untung rombongan masih ada dan ketika gue datang, mereka sedang menata kembali tas di bagian belakang mobil travel. Selesai merapikan tas, penumpang pun segera masuk dan duduk sesuai dengan formasi awal.
Pemandangan segera berganti menjadi jalan tol. Ternyata di Malaysia, sepeda motor boleh lewat jalan tol. Kalau menurut penjelasan teman gue, hal tersebut karena warga Malaysia lebih senang menggunakan tranportasi umum dan agar jalan tol tidak rugi maka, sepeda motor diperbolehkan menggunakan jalan tol. Seandainya transportasi umum di Indonesia diperbaiki, mungkin hal yang sama bisa terjadi.
Ketika memasuki Penang, pemandangan laut langsung mendominasi. Hua...sudah sampai Penang ^-^ Yippie!
Penang
Akhirnya, tiba juga kita di Penang. Kalo orang Indonesia, menyebut Penang menggunakan 'e' tapi kalo orang non Indonesia menyebut Penang menggunakan 'i' sehingga menjadi Pinang.
Penang merupakan salah satu bagian dari negara Malaysia dengan ibukota yang bernama Georgetown. Kotanya kecil tapi banyak terdapat bangunan-bangunan tua yang bersejarah. Ya..seperti Kota Tua di Jakarta deh. Maka tidak heran kalau Penang atau mungkin lebih tepatnya Georgewn ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Sites.
Di Penang, kita menginap di Red Inn hostel yang berada di Jalan Love Lane. Bentuk hostelnya berupa bangunan dua lantai dengan teras kecil di depannya yang memuat dua buah meja kecil serta beberapa kursi.
Kami diturunkan oleh supir travel di depan Jalan Love Lane. Tidak ada bayangan sama sekali di benak kami bentuk hostel yang akan kami inapi. Maka, pelan-pelan kami menyusuri jalan tersebut. Ternyata, Red Inn Hostel ada dua. Hostel yang pertama kami datangi ternyata bukan hostel tempat kami menginap. Kami pun diarahkan untuk menuju hostel yang satunya lagi. Sebenarnya saat itu ada dua pilihan. Mencari hostel atau money changer, sebab saat itu tidak ada satu pun dari kami yang membawa ringgit, padahal kami harus membayar uang sewa. Namun, berhubung di sepanjang perjalanan kami tidak melihat money changer, maka kami putuskan untuk mencari hostel terlebih dahulu. Siapa tau bisa menitipkan tas sebentar.
Akhirnya kami menemukan hostel yang dimaksud. Kami segera masuk, berbicara dengan resepsionisnya dan menjelaskan bahwa kami membutuhkan money changer agar bisa segera menukar uang ke ringgit. Kami diberi petunjuk letak money changer terdekat dan untungnya, diperbolehkan untuk menitipkan tas.
Setelah semuanya beres, kami segera menuju kamar. Kamar kami letaknya bersebelahan. Gue dan Wanda mendapat kamar no. 208 sedangkan Jeffri 209. Sekali lagi, kami mendapat kamar di dekat kamar mandi.
Kamarnya cukup besar dengan tempat tidur ukuran king size. Dindingnya diberi cat berwarna merah muda dan putih dengan furniture dominasi dari kayu. Lantainya terbuat dari kayu parkit. Oleh karena itu, kami harus jalan dengan sangat hati-hati karena kalau jalan terburu-buru akan menimbulkan suara berisik.
Akhirnya kami menemukan hostel yang dimaksud. Kami segera masuk, berbicara dengan resepsionisnya dan menjelaskan bahwa kami membutuhkan money changer agar bisa segera menukar uang ke ringgit. Kami diberi petunjuk letak money changer terdekat dan untungnya, diperbolehkan untuk menitipkan tas.
Setelah semuanya beres, kami segera menuju kamar. Kamar kami letaknya bersebelahan. Gue dan Wanda mendapat kamar no. 208 sedangkan Jeffri 209. Sekali lagi, kami mendapat kamar di dekat kamar mandi.
Kamarnya cukup besar dengan tempat tidur ukuran king size. Dindingnya diberi cat berwarna merah muda dan putih dengan furniture dominasi dari kayu. Lantainya terbuat dari kayu parkit. Oleh karena itu, kami harus jalan dengan sangat hati-hati karena kalau jalan terburu-buru akan menimbulkan suara berisik.
Cuaca Penang yang terik di siang hari membuat gue sangat mengharapkan mendapat hawa sejuk ketika memasuki kamar hostel. Sayangnya itu tidak terjadi. AC di kamar baru saja dinyalakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendinginkan ruangan.
Perlu diingat bahwa stop kontak di Malaysia memiliki 3 bolongan. Ini berbeda dengan keadaan di Indonesia yang hanya memiliki 2 bolongan. Oleh karena itu, gue sarankan apabila pergi ke Malaysia untuk tidak lupa membawa colokan yang memiliki 3 bolongan.
Sambil menunggu mengisi baterai handphone, kita memilih untuk bersih-bersih alias mandi. Setelah itu, baru kita akan menjelajah kota sambil mencari makan malam. Hostel ini menyediakan sandal khusus untuk ke kamar mandi. Sandalnya lucu berupa sandal bakiak yang terbuat dari kayu. Gue enggak berani menggunakan sandal itu, takut terpeleset.
Kamar mandi hostel ini terdiri dari 3 bilik dan semuanya dilengkapi shower panas dan dingin. Kamar mandinya bersih. Bahkan di wastafel tersedia hair dryer.
Waktunya jalan-jalan! Saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Oh ya..waktu di Penang beda 1 jam dengan waktu Jakarta. Jadi, jangan lupa untuk mengganti waktu di jam masing-masing.
Letak kamar kita ada di lantai 2 dan peraturan di hostel ini adalah lo harus melepas alas kaki, meletakkannya di rak yang sudah mereka sediakan di dekat tangga, baru naik ke atas.
Ketika turun tangga, lalu berbelok ke kiri, tepat di depan rak sepatu, lo akan melewati meja billyard. Lalu di sebelahnya terdapat sofa empuk berwarna krem yang disusun setengah lingkaran. Lalu, ada televisi layar datar yang cukup besar yang dinyalakan dengan volume kecil. Dan di sebelah sofa terdapat meja resepsionis. Tempat lo bisa bertanya-tanya dan mencetak dokumen. Di seberang meja resepsionis terdapat dua buah komputer yang dapat digunakan oleh penghuni secara cuma-cuma.
Awalnya kita berniat untuk menghabiskan malam dengan main billyard, tapi kalau ingat waktu kita di Penang cuma semalam, maka kita putuskan untuk menjelajah Penang malam itu juga.
Ketika sedang menunggu Jeffri, gue dan Wanda didekati seorang pria. Wajahnya seperti orang Indonesia tapi berlogat Melayu. Awalnya gue engak curiga dengan orang itu karena gue lihat dia berbincang-bincang cukup akrab dengan resepsionis hostel. Gue pikir dia adalah salah satu penghuni hostel. Dia mengajak kami mengobrol menggunakan bahasa Inggris campur Melayu. Tapi, setelah berbincang cukup lama, gue langsung merasa bahwa orang ini aneh dan (sepertinya) berniat buruk.
Ada beberapa omongan dan tingkah laku orang tersebut yang membuat gue berpikiran seperti itu. Pertama, mata orang itu jelalatan ketika melihat kami. Lalu, dia menakut-nakuti kami dengan mengatakan bahwa cukup berbahaya jalan sendirian ke pinggir pantai karena hari itu adalah malam minggu dan biasanya ada balapan motor dan banyak orang mabuk. Secara tidak langsung dia ingin dirinya dibawa jalan-jalan bersama kami. Kemudian, dia menyebutkan nomor kamar tempat dia menginap dan mempersilahkan kami untuk mampir. Hah?? Untung enggak lama kemudian Jeffri datang. Kita pun langsung mengajak Jeffri untuk bergabung dan orang tersebut kaget. Mungkin dia pikir kita hanya berdua. Kemudian, kita cepat-cepat pergi meninggalkan orang tersebut.
Niat awal perjalanan di malam hari ini adalah untuk wisata kuliner khas Penang. Kebetulan kita juga belum makan malam, jadi pas deh. Kita langsung menuju jalanan utama dimana banyak berjajar pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Makanan yang dijajakan sangat beragam, mulai dari yang halal hingga haram. Silakan untuk memilih.
Sebelum lanjut ke kisah perjalanan kami, ada selingan sedikit mengenai Love Lane. Mengapa namanya Love Lane? Jalan Cinta? Itu adalah pertanyaan yang langsung bertengger di kepala gue ketika mendengar nama jalan ini. Ada hubungan apa dengan cinta? Ternyata, dahulu, tempat ini dijadikan sebagai tempat tinggal wanita-wanita simpanan. Mungkin inilah latar belakang mengapa jalan ini diberi nama Love Lane.
Lanjut, ke kisah perjalanan kami. Di sekitar love lane, tidak ramai oleh penjual makanan. Kanan-kiri jalan ini lebih banyak diisi dengan hostel, apabila ada tempat makan pun tidak banyak. Apabila kamu ingin wisata kuliner, keluarlah Love Lane. Kalau dari Red Inn Hostel, belok kiri. Keluar dari Love Lane lalu belok kiri, kamu akan menemukan banyak sekali pilihan kuliner. Kami pun mulai menjelajah.
Penjelajahan kuliner gue dimulai dengan membeli gorengan. Gorengan disini berbeda dengan gambaran gorengan yang ada di Indonesia. Hmm..mungkin gorengan di sini lebih seperti gorengan di menu dim sum. Gue lupa namanya, tapi bentuknya ada yang persegi panjang, lonjong. Harganya tidak terlalu mahal yaitu RM 1.30 atau sekitar RP 3.500 apabila 1 RM = Rp 3000. Gue ambil 3 potong, lalu kita makan ramai-ramai.
Gorengan tidak cukup mengganjal perut kami atau mungkin perut gue yang kelaparan. Jadilah kita mencari makanan yang berat. Penjelajahan kembali dimulai. Banyak sekali penjual yang menjajakan mie. Hm...sepertinya enak. Akhirnya kita memutuskan untuk mencoba mie tersebut. Sayangnya, mie tersebut tidak halal karena menggunakan daging babi. Wanda tentu tidak bisa makan. Jadi, perjanjiannya, setelah kami (gue dan Jeffri) makan mie tersebut, kita akan menemani Wanda mencari makananan yang halal.
Harga semangkuk mie berbeda tergantung porsinya. Mie dengan mangkuk kecil harganya RM 3, sedangkan mie mangkuk besar RM 4. Apabilai ingin tambah suikiaw, tambah 0.5 RM/buah. Gue pesen mie mangkuk kecil dan 2 suikiaw sedangkan Jeffri seporsi mie mangkuk besar dengan 2 suikiaw. Isi mienya ternyata banyak, meskipun mangkuknya kecil. Isinya terdiri dari mie, beberapa potong daging babi merah, lalu daging babi yang dipotong kotak yang berwarna agak pucat, sayur sawi, dan sambal yang disajikan dalam wadah terpisah.
Kenyang makan mie tersebut, kami memenuhi janji untuk menemami Wanda mencari menu makan malamnya. Tapi, sebelumnya, kami berniat untuk mencari minum karena ternyata kami tidak diberi minum. Selain itu, cuaca Penang malam itu cukup gerah, semakin menambah rasa haus kami. Untung, tidak jauh dari tempat makan mie, kami menemukan penjual yang menjajakan aneka jus buah. Hm... kelihatannya segar. Harganya pun tidak terlalu mahal yaitu rata-rata 1.50 RM. Kami membeli jus jeruk. Hm...enggak nyesel deh. Rasanya segar banget.
Setelah itu kami mencari makanan untuk Wanda. Awalnya dia ingin nasi lemak, lalu tidak jauh ada tempat yang menjual nasi lemak. Awalnya gue mengira nasi lemak adalah nasi dengan bumbu berwarna kuning kemerahan dan kental. Tapi, penampilan nasi lemak yang dijual ini sangat berbeda. Penampilannya justru persis seperti nasi kucing yang dijual di angkringan. Kecil, dibungkus daun pisang. Isinya nasi dengan beberapa pilihan lauk, antara lain ikan, daging, dan telur.
Kami membeli beberapa karena ingin mencoba. Meskipun begitu, Wanda belum menemukan makanan yang cocok dengan seleranya. Lalu berjalanlah dan tanpa sadar sudah berada di Kapitan Keling Mosque. Tidak jauh dari Mesjid, ada satu tempat yang berisi antrian orang. Ada apa ini? Makanan seperti apa yang dijual sampai untuk membelinya harus mengantri bahkan antriannya hingga mengular. Ternyata itu adalah Nasi Kandar, bentuknya seperti Nasi Padang. Nasi dengan berbagai lauk dengan kuah kental bersantan.
Sebenarnya ada banyak penjual yang menjajakan nasi kandar, tetapi nasi kandar yang satu ini istimewa karena dia sudah sangat terkenal. Bahkan orang dari luar Penang pun rela mengantri demi makan nasi kandar istimewa ini.
Kami pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba nasi kandar legendaris ini. Wanda yang mengantri, gue dan Jeffri mencoba untuk menjelajah daerah sekitar.
Menikmati kota Penang pada malam hari menurut saya boleh dicoba. Namun, bersiaplah untuk menjelajah Penang menggunakan kaki karena angkutan umum disini (bus) berhenti beroperasi antara pukul 20.00/21.00. Namun, jangan takut menjelajah Penang menggunakan kaki karena disini keadaannya cukup tenang. Sudah tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang, kalaupun ada, mereka patuh pada peraturan lalu lintas. Selain itu, setiap jalan mempunyai trotoar, dan tersedia peta di berbagai tempat terutama yang dekat tempat wisata. Jadi, jangan takut nyasar di Penang.
Di Penang, terdapat banyak gambar-gambar kartun lucu yang ditempel di tembok-tembok kota. Umumnya kartun tersebut bercerita mengenai kehidupan masyarakat sekitar. Selain itu, kita juga dapat melihat papan yang berisi peraturan mengenai parkir. Hal ini mungkin karena sempitnya halaman rumah yang dimiliki oleh warga yang tinggal disini sehingga mereka mobil mereka diparkir di luar rumah atau di pinggir jalan.
Setelah itu, kami kembali menjemput Wanda di tempat nasi kandar. Ternyata Wanda masih mengantri, padahal kami sudah meninggalkan ia selama kurang lebih 30 menit. Untung tidak lama kemudian Wanda mendapat giliran. Kami memesan satu piring nasi dengan lauk hati ayam, ayam, daging yang seperti rendang. Dengan lauk sebanyak itu, kami membayar 4.5 RM. Lalu kami membeli es teh tarik seharga 1.5 RM.
Puas makan malam, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah. Ternyata kami tiba di Gereja St. George. Gereja ini dibangun sekitar tahun 1817-1818 dan merupakan gereja anglian tertua di Asia Tenggara. Tidak jauh dari Gereja St. George ada Penang State Museum dan Cathedral of the Assumption.
Karena kami jalan pada malam hari, penerangan di sekitar gereja tidak begitu bagus dan kamera yang kami miliki bukanlah kamera tingkat tinggi, maka gagallah kami mendapatkan gambar yang bagus dari kedua gereja tersebut. Akhirnya kami hanya membidik papan keterangan yang tertera di pinggir gerbang gereja.
Oh ya, hampir di setiap obyek wisata yang ada di Penang memiliki papan informasi yang terletak di pinggir jalan, sehingga siapapun yang lewat bisa membaca sejarah dari bangunan tersebut. Strategi yang bagus untuk menarik minat pengunjung sekaligus menambah pengetahuan akan sejarah.
Setelah puas foto-foto, kami menuju Esplanade. Esplanade itu menurut gue semacam pembatas antara lautan dan daratan di Penang. Kamu bisa menikmati semilir angin laut disini sambil makan karena di tempat ini tersedia tempat makan. Bisa juga kita duduk-duduk di sekitar tembok yang dibangun untuk membatasi laut. Tempat ini cukup ramai. Banyak orang menggunakan tempat ini sebagai tempat bersosialisasi, dari tua sampai muda.
Di Esplanade juga terdapat War Momerial untuk mengenang jasa-jasa pendiri Penang. Setelah itu, kami balik pulang karena ingin menemukan Komtar. Kami melewati Fort Cornwallis yang merupakan benteng pertahanan. Di taman dekat benteng, gue melihat seorang bapak sedang bercanda dengan dua anjingnya. Dasarnya gue suka anjing, akhirnya gue beranikan diri untuk bertanya apakah gue boleh memegang anjingnya dan diizinkan. Wah..senangnya. Gue pun main-main sebentar dengan mereka sekalian melepas kangen dengan anjing-anjing di rumah.
Temen gue, Wanda, takut dengan anjing. Jadi dia hanya berdiri saja di trotoar. Sepertinya anjing-anjing itu tau kalo Wanda takut, jadi mereka terlihat seperti menggoda Wanda. Mereka lari kencang menuju Wanda lalu ketika sudah dekat dan Wanda teriak ketakutan, mereka langsung berbelok. Begitu seterusnya. Bapak yang punya anjing tertawa melihat tingkah anjingnya dan Wanda. Kemudian dia menanyakan alasan Wanda takut dengan anjing lalu terjadilah perbincangan menarik yang meluas hingga ke nilai kehidupan.
Dari obrolan singkat tapi menarik itu, gue mendapat kesimpulan bahwa ketika kita takut terhadap sesuatu itu sebenarnya itu karena kita belum mengenal dengan baik sesuatu yang kita takuti itu. Jadi, kenali rasa takutmu lalu hadapi, maka kamu akan menemukan kebahagiaan.
Puas bermain dan berbincang, kami pun pamit kepada bapak tersebut. Ternyata ia pun juga mau pulang. Maka, ia memanggil kedua anjingnya untuk masuk mobil. Ketika ia jalan dan membuka kaca mobilnya, anjingnya menggonggong kepada kami mengucapkan salam perpisahan sebagai teman.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Saat itu angin semakin kencang, tanda seperti akan hujan. Waduh...padahal tempat yang ingin kami cari belum ketemu. Tidak lama, hujan turun dengan deras. Kami segera berlari mencari tempat berteduh. Untung kami menemukan halte bus dan kembali untung karena hujannya tidak lama. Kembali kami jalan mencari komtar. Dan....kami baru ingat bahwa kami lupa membawa peta. Padahal hostel tempat kami menginap menyediakan peta gratis, bahkan kami sudah mengambil peta itu.
Kami terus berjalan tapi akhirnya menyerah karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Lagipula keadaan kota sudah sangat sepi. Kembali ke hostel pun kami pakai nyasar. Ngantuk+nyasar itu perpaduan yang melelahkan. Meskipun begitu, gue dan Wanda menikmati saja perjalanan malam hari ini tapi sepertinya tidak dengan Jeffri. Mukanya sudah menunjukkan kelelahan. Jadi kami berjalan di depan dan dia di belakang.
Selama perjalanan pulang ke hostel, kami menemukan beberapa orang yang tidur di jalanan,seperti tampak pada foto di atas. Meskipun begitu, kami tidak menemukan pengemis ketika siang hari. Entah, mereka yang tidur di jalanan apa pekerjaannya. Kasihan melihat mereka. Sudah tua, seharusnya mereka tidur nyaman di tempat tidur yang hangat di rumah, menikmati masa tua.
Finally, kami menemukan hostel tempat kami menginap. Yeay! Kami segera cuci muka, cuci kaki, minum lalu tidur sangat lelap karena hari ini sangat melelahkan.
Kami keluar hostel sekitar pukul 11.00 lalu mengisi perut dengan chicken rice di kedai sekitar hostel. Harga chicken ricenya 5 RM. Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk menemukan Komtar (Komplek Tun Abduk Razak) yaitu tempat bis yang akan kami naiki untuk menuju ke Bandar udara Penang.
Selama perjalanan menuju Komtar, di beberapa tempat kami menemukan burung-burung gagak bebas beterbangan. Mungkin kalau di Indonesia mereka sudah ditangkap dan tinggal di Pasar Burung Pramuka ya..
Sambil jalan santai menikmati suasana Penang di siang hari, kami menyempatkan diri untuk membeli suvernir. Seperti biasa, gue mencari magnet kulkas. Oleh-oleh wajib bagi gue. Setelah melihat-lihat, kami pun membeli suvernir di pedagang pinggir jalan. Kami mengobrol banyak dengan bapak pedagang tersebut. Ternyata pekerjaan aslinya adalah pemandu wisata. Ia bekerja sebagai pedagang karena menggantikan posisi bapaknya yang sedang sakit. Kemudian ia bertanya asal kami, dan kami pun meminta ia untuk menebak asal kami. Filipina, Malaysia, Singapura, bahkan Thailand ia sebut. Lalu ia menyerah. Gue menggumam dalam hati (Indonesia mana...kok enggak disebut. Sebegitu tidak terkenalnya kah negara gue?). Akhirnya kami menyebut nama Indonesia dan ia kaget. Kami pun ikut kaget. Masa iya dia tidak tahu Indonesia. Ternyata dia tahu tetapi yang membuat dia kaget adalah karena kami fasih berbahasa Inggris. Selama ini, dia mengenal orang Indonesia sebagai turis yang tidak pandai berbahasa Inggris. *tepok jidat*. Meskipun begitu, dia sangat senang bertemu kami. Dari yang awalnya hanya tawar-menawar harga suvernir, berakhir menjadi hubungan yang lebih akrab. Dia pun bercerita bahwa ia pernah ke Indonesia khususnya ke Tanah Abang. Selain itu, kami mendapat harga murah untuk beberapa suvernir yang kami beli. Lumayan...
Kami pun pamit dan bergegas menuju Komtar. Ternyata kami salah jalan. Aduh..udah waktunya mepet pakai salah jalan pula. Maka, langkah kaki kami percepat. Akhirnya tibalah kami di Komtar dan kami mencari bis dengan tujuan bandar udara. Untung bisnya cepat datang. Kami segera naik dan membayar. Gue kurang tahu berapa harga bisnya karena gue memberikan 20 RM Malaysia untuk 3 orang dan tidak diberi kembalian. Apakah memang harga bisnya @6.6 RM atau memang tidak ada uang kembali. Kami ikhlaskan saja, yang penting kami cepat tiba sampai bandar udara.
Ada pengalaman tidak mengenakkan ketika kami berada di bis dan ini menimpa Wanda. Bis yang kami tumpangi sudah penuh, maka kami pun berdiri di tempat yang telah disediakan. Gue dan Wanda berdiri bersisian. Di depan kami ada pasangan muda berwajah oriental. Ketika bis mengerem mendadak, agar tidak jatuh, Wanda berpegangan pada besi yang tersedia dan tangannya secara tidak sengaja menyentuh tangan cowok muda itu. Tiba-tiba tangannya langsung ditarik, dikibas-kibas lalu dilap ke bajunya. Matanya memandang jijik ke Wanda. Dia melakukan itu di depan mata kami! Sumpah, gue langsung panas. Ketika si supir mengerem mendadak lagi dan tangan cowok itu tanpa sengaja menyentuh tangan Wanda, dia langsung mengibaskan tangannya dan membuang muka. Gue pun secara sengaja menyentuhkan badan gue ke badannya terus gue liatin itu orang dari atas sampai bawah. Hari gini masih rasis?? Ke laut aja deh lo. Gue emang di negara lo, tapi bukan berarti lo bisa rasis sama turis. Asal lo tau, gue sudah menyumbang devisa bagi negara lo. Ternyata cowok muda itu kaget dengan perlakukan balasan dari kami dan kita menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak bodoh, maka kami terus menggunakan bahasa Inggris di depan dia. Tiba-tiba dia malu dan menundukkan wajahnya sampai ia turun.
Kemudian kami dapat duduk dan sepertinya kami tahu alasan mengapa anak muda tadi memandang rendah kepada kami orang Indonesia. Di sebelah kami, ada sepasang muda-mudi dari Indonesia. Gue tahu dari logat khas mereka. Tiba-tiba, si cowok meludah dan si cewek membuang sampah sembarangan. Waaahhh...rasanya pengen gue maki-maki itu pasangan. Gara-gara kelakuan minus mereka, orang Indonesia dianggap seperti bangsa sampah. Jujur, gue malu sama kelakuan mereka.
Untung enggak lama, kami tiba di bandar udara dan tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang. Waduh...mungkin kepalaku gue harus didinginkan tapi ya enggak diguyur hujan juga sih. Ketika keluar bis, kami menggunakan payung tapi percuma. Angin kencang membalikkan payung kami dan tetap saja kami basah. Karena cuaca buruk, maka penerbangan menuju Medan mengalami delay selama 1 jam. Jadilah kami kedinginan di bandara.
Medan? Kami ke Medan bukan Jakarta? Iya, kami membeli tiket pesat Penang-Medan lalu lanjut lagi Medan - Jakarta. Tujuannya apa lagi kalau bukan mengirit hehe... Hal ini dilakukan karena harga tiket Penang - Jakarta cukup mahal, sekitar 2 juta. Sedangkan Penang - Medan sekitar 300 ribu dan Medan - Jakarta sekitar 700 ribu. Lumayan kan. Ya hitung-hitung pernah menginjakkan kaki di Medan lah, meskipun hanya di bandara saja.
Penerbangan Penang - Medan hanya sebentar, sekitar 45 menit, lebih lama waktu menunggu kami. Ketika di pesawat yang menuju Medan, kami mengalami kejadian tidak mengenakkan (lagi). Kali ini menimpa Jeffri. Tempat duduknya ditempati oleh orang lain dan Ibu dari anak tersebut tidak mau anakya pindah. Jeffri dan ibu itu sempat ribut-ribut kecil. Tapi, Wanda yang menengahi dan akhirnya Wanda yang menduduki tempat Jeffri. Hm...kalau gue sih enggak mau mengalah karena itu sudah hak gue, tercetak hitam diatas putih lagi. Bukan karena ego tapi lebih untuk memberi pelajaran ke orang-orang tertentu yang belagu bahwa lo harus ikut aturan yang ada. Oh ya, kita ributnya dengan orang Indonesia. Halah...
Suasana Penang dari pesawat
Suasana Medan dari pesawat
Ketika tiba di Medan, gue bingung. Ini serius bandara dekat banget sama rumah? Ternyata benar, Bandara Polonia Medan dekat banget dengan rumah penduduk. Wahh....
Jangan bayangin Bandara Soekarno-Hatta. Bandara Polonia kecil banget. Ganti gate aja tinggal jalan kaki. dan...hehe..keadannya semrawut. Pedagang, tukang taksi, bahkan tukang ojek berkeliaran. Bau rokok dimana-mana. Keadaannya sudah seperti terminal, padahal ini bandara internasional. Bahkan kami sempat loh keluar bandara untuk makan di KFC.
Ternyata pesawat Lion Air yang ke Jakarta mengalami delay. Perkiraan kami karena cuaca buruk. Tapi sepertinya bukan hanya pesawat kami yang delay melainkan seluruh penerbangan oleh maskapai Lion. Dan..yang bikin gue kaget adalah ricuh antara penumpang dan petugas bandara. Penumpang dan petugas saling umpat dengan suara keras. Hm...sambutan yang tidak ramah dari Medan hehe...Mereka ribut sampai naik ke kursi. Konyolnya, orang-orang yang bersuara paling keras tadi langsung diam ketika menerima dus makanan dari maskapai. O ya ampun....
Di barisan kami ada bapak-ibu beserta anak laki-lakinya. Mereka dari Perancis. Muka mereka kaget banget melihat keributan itu. Ternyata mereka mau diving di Pulau Weh, Aceh. Wih asyiknya. Si ibu sih tenang-tenang aja tapi si bapak agak panik gitu. Antara mau ngebatalin penerbangan atau tetap melanjutkan penerbangan. Tapi sepertinya mereka tetap melanjutkan penerbangan karena gue lihat mereka masuk pesawat.
Oh ya, jarak antara pesawat dan ruang tunggu sangat dekat loh. Pesawat gede-gede itu ada di depan mata lo, hanya dipisahkan jarak beberapa meter dan kaca. Tapi sekarang Medan sudah punya bandara baru namanya Bandara Kuala Namu. Katanya sih jauh lebih modern. Ya syukur deh. Gue ingin merasakan Bandara Kuala Namu sayang belum ada waktu yang tepat.
Akhirnya kami berangkat. Horeee... ke Jakarta aku kan kembaliiii. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 21.00 WIB. Ternyata Danang menjemput kami (gue dan Wanda) dan kami pulang bareng menggunakan taksi. Sedangkan Jeffri dijemput bokapnya.
Perjalanan ini pun berakhir. Meskipun begitu begitu banyak cerita dan pengalaman yang gue dapat.
Terima kasih yang tidak terkira kepada Tuhan YME, kepada orang tua gue, kepada bos gue, Ibu Farida yang udah mengizinkan gue dan teman-teman pergi, dan terima kasih juga kepada Danang. Meskipun ada sedikit masalah tapi lo udah menjadi tour guide yang baik. Lo udah memberikan hostel yang nyaman, rute-rute yang enak dan bahkan mau menjemput. :)) . Terima kasih juga kepada teman-teman, Wanda dan Jeffri yang sudah memberi warna dalam perjalanan kali ini.
Berikut rincian biaya perjalanan diluar biaya tiket pesawat :
Rupiah : Bekal perjalanan : 25500
Ongkos angkot : 3000
DAMRI dari psr. minggu : 25000
Sarapan : 10000
Airport Tax Soetta :150000
Makan KFC : 25000
Airport tax Polonia : 35000
Beli bikang ambon : 50000
pt2 taxi Soetta - Dpk : 50000
----------------------------------------------------+
373500
USD : Tour di Phi-Phi Island : 100 x 10000 = 1000000
Baht : Belanja di sevel : 128
Makan malam : 40
Patungan hostel 2D1N : 650
BTS bandara - Paya Thai : 45
BTS Paya Thai - Asok : 30
Beli nomor Thai : 49
Payung : 99
MRT ke Hua Lamphong : 27
pt2 taksi ke Grand Palace : 23 = 69:3
Tiket masuk Grand Palace : 500
Tiket masuk Wat Pho : 100
Juice delima : 20 = 40:2
Top up pulsa telepon : 100
Taksi ke Hua Lamphong : 23 = 70:3
MRT ke sukhumvit : 27
Menikmati kota Penang pada malam hari menurut saya boleh dicoba. Namun, bersiaplah untuk menjelajah Penang menggunakan kaki karena angkutan umum disini (bus) berhenti beroperasi antara pukul 20.00/21.00. Namun, jangan takut menjelajah Penang menggunakan kaki karena disini keadaannya cukup tenang. Sudah tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang, kalaupun ada, mereka patuh pada peraturan lalu lintas. Selain itu, setiap jalan mempunyai trotoar, dan tersedia peta di berbagai tempat terutama yang dekat tempat wisata. Jadi, jangan takut nyasar di Penang.
Di Penang, terdapat banyak gambar-gambar kartun lucu yang ditempel di tembok-tembok kota. Umumnya kartun tersebut bercerita mengenai kehidupan masyarakat sekitar. Selain itu, kita juga dapat melihat papan yang berisi peraturan mengenai parkir. Hal ini mungkin karena sempitnya halaman rumah yang dimiliki oleh warga yang tinggal disini sehingga mereka mobil mereka diparkir di luar rumah atau di pinggir jalan.
Setelah itu, kami kembali menjemput Wanda di tempat nasi kandar. Ternyata Wanda masih mengantri, padahal kami sudah meninggalkan ia selama kurang lebih 30 menit. Untung tidak lama kemudian Wanda mendapat giliran. Kami memesan satu piring nasi dengan lauk hati ayam, ayam, daging yang seperti rendang. Dengan lauk sebanyak itu, kami membayar 4.5 RM. Lalu kami membeli es teh tarik seharga 1.5 RM.
Puas makan malam, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami hanya mengikuti kemana kaki ini melangkah. Ternyata kami tiba di Gereja St. George. Gereja ini dibangun sekitar tahun 1817-1818 dan merupakan gereja anglian tertua di Asia Tenggara. Tidak jauh dari Gereja St. George ada Penang State Museum dan Cathedral of the Assumption.
Karena kami jalan pada malam hari, penerangan di sekitar gereja tidak begitu bagus dan kamera yang kami miliki bukanlah kamera tingkat tinggi, maka gagallah kami mendapatkan gambar yang bagus dari kedua gereja tersebut. Akhirnya kami hanya membidik papan keterangan yang tertera di pinggir gerbang gereja.
Oh ya, hampir di setiap obyek wisata yang ada di Penang memiliki papan informasi yang terletak di pinggir jalan, sehingga siapapun yang lewat bisa membaca sejarah dari bangunan tersebut. Strategi yang bagus untuk menarik minat pengunjung sekaligus menambah pengetahuan akan sejarah.
Setelah puas foto-foto, kami menuju Esplanade. Esplanade itu menurut gue semacam pembatas antara lautan dan daratan di Penang. Kamu bisa menikmati semilir angin laut disini sambil makan karena di tempat ini tersedia tempat makan. Bisa juga kita duduk-duduk di sekitar tembok yang dibangun untuk membatasi laut. Tempat ini cukup ramai. Banyak orang menggunakan tempat ini sebagai tempat bersosialisasi, dari tua sampai muda.
Di Esplanade juga terdapat War Momerial untuk mengenang jasa-jasa pendiri Penang. Setelah itu, kami balik pulang karena ingin menemukan Komtar. Kami melewati Fort Cornwallis yang merupakan benteng pertahanan. Di taman dekat benteng, gue melihat seorang bapak sedang bercanda dengan dua anjingnya. Dasarnya gue suka anjing, akhirnya gue beranikan diri untuk bertanya apakah gue boleh memegang anjingnya dan diizinkan. Wah..senangnya. Gue pun main-main sebentar dengan mereka sekalian melepas kangen dengan anjing-anjing di rumah.
Temen gue, Wanda, takut dengan anjing. Jadi dia hanya berdiri saja di trotoar. Sepertinya anjing-anjing itu tau kalo Wanda takut, jadi mereka terlihat seperti menggoda Wanda. Mereka lari kencang menuju Wanda lalu ketika sudah dekat dan Wanda teriak ketakutan, mereka langsung berbelok. Begitu seterusnya. Bapak yang punya anjing tertawa melihat tingkah anjingnya dan Wanda. Kemudian dia menanyakan alasan Wanda takut dengan anjing lalu terjadilah perbincangan menarik yang meluas hingga ke nilai kehidupan.
Dari obrolan singkat tapi menarik itu, gue mendapat kesimpulan bahwa ketika kita takut terhadap sesuatu itu sebenarnya itu karena kita belum mengenal dengan baik sesuatu yang kita takuti itu. Jadi, kenali rasa takutmu lalu hadapi, maka kamu akan menemukan kebahagiaan.
Puas bermain dan berbincang, kami pun pamit kepada bapak tersebut. Ternyata ia pun juga mau pulang. Maka, ia memanggil kedua anjingnya untuk masuk mobil. Ketika ia jalan dan membuka kaca mobilnya, anjingnya menggonggong kepada kami mengucapkan salam perpisahan sebagai teman.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. Saat itu angin semakin kencang, tanda seperti akan hujan. Waduh...padahal tempat yang ingin kami cari belum ketemu. Tidak lama, hujan turun dengan deras. Kami segera berlari mencari tempat berteduh. Untung kami menemukan halte bus dan kembali untung karena hujannya tidak lama. Kembali kami jalan mencari komtar. Dan....kami baru ingat bahwa kami lupa membawa peta. Padahal hostel tempat kami menginap menyediakan peta gratis, bahkan kami sudah mengambil peta itu.
Kami terus berjalan tapi akhirnya menyerah karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hostel. Lagipula keadaan kota sudah sangat sepi. Kembali ke hostel pun kami pakai nyasar. Ngantuk+nyasar itu perpaduan yang melelahkan. Meskipun begitu, gue dan Wanda menikmati saja perjalanan malam hari ini tapi sepertinya tidak dengan Jeffri. Mukanya sudah menunjukkan kelelahan. Jadi kami berjalan di depan dan dia di belakang.
Selama perjalanan pulang ke hostel, kami menemukan beberapa orang yang tidur di jalanan,seperti tampak pada foto di atas. Meskipun begitu, kami tidak menemukan pengemis ketika siang hari. Entah, mereka yang tidur di jalanan apa pekerjaannya. Kasihan melihat mereka. Sudah tua, seharusnya mereka tidur nyaman di tempat tidur yang hangat di rumah, menikmati masa tua.
Finally, kami menemukan hostel tempat kami menginap. Yeay! Kami segera cuci muka, cuci kaki, minum lalu tidur sangat lelap karena hari ini sangat melelahkan.
Hari keenam
Kami bangun sekitar pukul 08.00, mandi lalu sarapan di bawah. Sarapannya enak dan banyak pilihan. Ada potongan jeruk sunkist, roti bakar, roti seperti roti canai, dan mie goreng. Sarapan yang mengenyangkan. Setelah itu kami packing karena tepat pukul 12.00 kami harus keluar.Kami keluar hostel sekitar pukul 11.00 lalu mengisi perut dengan chicken rice di kedai sekitar hostel. Harga chicken ricenya 5 RM. Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk menemukan Komtar (Komplek Tun Abduk Razak) yaitu tempat bis yang akan kami naiki untuk menuju ke Bandar udara Penang.
Selama perjalanan menuju Komtar, di beberapa tempat kami menemukan burung-burung gagak bebas beterbangan. Mungkin kalau di Indonesia mereka sudah ditangkap dan tinggal di Pasar Burung Pramuka ya..
Sambil jalan santai menikmati suasana Penang di siang hari, kami menyempatkan diri untuk membeli suvernir. Seperti biasa, gue mencari magnet kulkas. Oleh-oleh wajib bagi gue. Setelah melihat-lihat, kami pun membeli suvernir di pedagang pinggir jalan. Kami mengobrol banyak dengan bapak pedagang tersebut. Ternyata pekerjaan aslinya adalah pemandu wisata. Ia bekerja sebagai pedagang karena menggantikan posisi bapaknya yang sedang sakit. Kemudian ia bertanya asal kami, dan kami pun meminta ia untuk menebak asal kami. Filipina, Malaysia, Singapura, bahkan Thailand ia sebut. Lalu ia menyerah. Gue menggumam dalam hati (Indonesia mana...kok enggak disebut. Sebegitu tidak terkenalnya kah negara gue?). Akhirnya kami menyebut nama Indonesia dan ia kaget. Kami pun ikut kaget. Masa iya dia tidak tahu Indonesia. Ternyata dia tahu tetapi yang membuat dia kaget adalah karena kami fasih berbahasa Inggris. Selama ini, dia mengenal orang Indonesia sebagai turis yang tidak pandai berbahasa Inggris. *tepok jidat*. Meskipun begitu, dia sangat senang bertemu kami. Dari yang awalnya hanya tawar-menawar harga suvernir, berakhir menjadi hubungan yang lebih akrab. Dia pun bercerita bahwa ia pernah ke Indonesia khususnya ke Tanah Abang. Selain itu, kami mendapat harga murah untuk beberapa suvernir yang kami beli. Lumayan...
Kami pun pamit dan bergegas menuju Komtar. Ternyata kami salah jalan. Aduh..udah waktunya mepet pakai salah jalan pula. Maka, langkah kaki kami percepat. Akhirnya tibalah kami di Komtar dan kami mencari bis dengan tujuan bandar udara. Untung bisnya cepat datang. Kami segera naik dan membayar. Gue kurang tahu berapa harga bisnya karena gue memberikan 20 RM Malaysia untuk 3 orang dan tidak diberi kembalian. Apakah memang harga bisnya @6.6 RM atau memang tidak ada uang kembali. Kami ikhlaskan saja, yang penting kami cepat tiba sampai bandar udara.
Ada pengalaman tidak mengenakkan ketika kami berada di bis dan ini menimpa Wanda. Bis yang kami tumpangi sudah penuh, maka kami pun berdiri di tempat yang telah disediakan. Gue dan Wanda berdiri bersisian. Di depan kami ada pasangan muda berwajah oriental. Ketika bis mengerem mendadak, agar tidak jatuh, Wanda berpegangan pada besi yang tersedia dan tangannya secara tidak sengaja menyentuh tangan cowok muda itu. Tiba-tiba tangannya langsung ditarik, dikibas-kibas lalu dilap ke bajunya. Matanya memandang jijik ke Wanda. Dia melakukan itu di depan mata kami! Sumpah, gue langsung panas. Ketika si supir mengerem mendadak lagi dan tangan cowok itu tanpa sengaja menyentuh tangan Wanda, dia langsung mengibaskan tangannya dan membuang muka. Gue pun secara sengaja menyentuhkan badan gue ke badannya terus gue liatin itu orang dari atas sampai bawah. Hari gini masih rasis?? Ke laut aja deh lo. Gue emang di negara lo, tapi bukan berarti lo bisa rasis sama turis. Asal lo tau, gue sudah menyumbang devisa bagi negara lo. Ternyata cowok muda itu kaget dengan perlakukan balasan dari kami dan kita menunjukkan bahwa orang Indonesia tidak bodoh, maka kami terus menggunakan bahasa Inggris di depan dia. Tiba-tiba dia malu dan menundukkan wajahnya sampai ia turun.
Kemudian kami dapat duduk dan sepertinya kami tahu alasan mengapa anak muda tadi memandang rendah kepada kami orang Indonesia. Di sebelah kami, ada sepasang muda-mudi dari Indonesia. Gue tahu dari logat khas mereka. Tiba-tiba, si cowok meludah dan si cewek membuang sampah sembarangan. Waaahhh...rasanya pengen gue maki-maki itu pasangan. Gara-gara kelakuan minus mereka, orang Indonesia dianggap seperti bangsa sampah. Jujur, gue malu sama kelakuan mereka.
Untung enggak lama, kami tiba di bandar udara dan tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang. Waduh...mungkin kepalaku gue harus didinginkan tapi ya enggak diguyur hujan juga sih. Ketika keluar bis, kami menggunakan payung tapi percuma. Angin kencang membalikkan payung kami dan tetap saja kami basah. Karena cuaca buruk, maka penerbangan menuju Medan mengalami delay selama 1 jam. Jadilah kami kedinginan di bandara.
Medan? Kami ke Medan bukan Jakarta? Iya, kami membeli tiket pesat Penang-Medan lalu lanjut lagi Medan - Jakarta. Tujuannya apa lagi kalau bukan mengirit hehe... Hal ini dilakukan karena harga tiket Penang - Jakarta cukup mahal, sekitar 2 juta. Sedangkan Penang - Medan sekitar 300 ribu dan Medan - Jakarta sekitar 700 ribu. Lumayan kan. Ya hitung-hitung pernah menginjakkan kaki di Medan lah, meskipun hanya di bandara saja.
Penerbangan Penang - Medan hanya sebentar, sekitar 45 menit, lebih lama waktu menunggu kami. Ketika di pesawat yang menuju Medan, kami mengalami kejadian tidak mengenakkan (lagi). Kali ini menimpa Jeffri. Tempat duduknya ditempati oleh orang lain dan Ibu dari anak tersebut tidak mau anakya pindah. Jeffri dan ibu itu sempat ribut-ribut kecil. Tapi, Wanda yang menengahi dan akhirnya Wanda yang menduduki tempat Jeffri. Hm...kalau gue sih enggak mau mengalah karena itu sudah hak gue, tercetak hitam diatas putih lagi. Bukan karena ego tapi lebih untuk memberi pelajaran ke orang-orang tertentu yang belagu bahwa lo harus ikut aturan yang ada. Oh ya, kita ributnya dengan orang Indonesia. Halah...
Suasana Penang dari pesawat
Suasana Medan dari pesawat
Ketika tiba di Medan, gue bingung. Ini serius bandara dekat banget sama rumah? Ternyata benar, Bandara Polonia Medan dekat banget dengan rumah penduduk. Wahh....
Jangan bayangin Bandara Soekarno-Hatta. Bandara Polonia kecil banget. Ganti gate aja tinggal jalan kaki. dan...hehe..keadannya semrawut. Pedagang, tukang taksi, bahkan tukang ojek berkeliaran. Bau rokok dimana-mana. Keadaannya sudah seperti terminal, padahal ini bandara internasional. Bahkan kami sempat loh keluar bandara untuk makan di KFC.
Ternyata pesawat Lion Air yang ke Jakarta mengalami delay. Perkiraan kami karena cuaca buruk. Tapi sepertinya bukan hanya pesawat kami yang delay melainkan seluruh penerbangan oleh maskapai Lion. Dan..yang bikin gue kaget adalah ricuh antara penumpang dan petugas bandara. Penumpang dan petugas saling umpat dengan suara keras. Hm...sambutan yang tidak ramah dari Medan hehe...Mereka ribut sampai naik ke kursi. Konyolnya, orang-orang yang bersuara paling keras tadi langsung diam ketika menerima dus makanan dari maskapai. O ya ampun....
Di barisan kami ada bapak-ibu beserta anak laki-lakinya. Mereka dari Perancis. Muka mereka kaget banget melihat keributan itu. Ternyata mereka mau diving di Pulau Weh, Aceh. Wih asyiknya. Si ibu sih tenang-tenang aja tapi si bapak agak panik gitu. Antara mau ngebatalin penerbangan atau tetap melanjutkan penerbangan. Tapi sepertinya mereka tetap melanjutkan penerbangan karena gue lihat mereka masuk pesawat.
Oh ya, jarak antara pesawat dan ruang tunggu sangat dekat loh. Pesawat gede-gede itu ada di depan mata lo, hanya dipisahkan jarak beberapa meter dan kaca. Tapi sekarang Medan sudah punya bandara baru namanya Bandara Kuala Namu. Katanya sih jauh lebih modern. Ya syukur deh. Gue ingin merasakan Bandara Kuala Namu sayang belum ada waktu yang tepat.
Akhirnya kami berangkat. Horeee... ke Jakarta aku kan kembaliiii. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 21.00 WIB. Ternyata Danang menjemput kami (gue dan Wanda) dan kami pulang bareng menggunakan taksi. Sedangkan Jeffri dijemput bokapnya.
Perjalanan ini pun berakhir. Meskipun begitu begitu banyak cerita dan pengalaman yang gue dapat.
Terima kasih yang tidak terkira kepada Tuhan YME, kepada orang tua gue, kepada bos gue, Ibu Farida yang udah mengizinkan gue dan teman-teman pergi, dan terima kasih juga kepada Danang. Meskipun ada sedikit masalah tapi lo udah menjadi tour guide yang baik. Lo udah memberikan hostel yang nyaman, rute-rute yang enak dan bahkan mau menjemput. :)) . Terima kasih juga kepada teman-teman, Wanda dan Jeffri yang sudah memberi warna dalam perjalanan kali ini.
Berikut rincian biaya perjalanan diluar biaya tiket pesawat :
Rupiah : Bekal perjalanan : 25500
Ongkos angkot : 3000
DAMRI dari psr. minggu : 25000
Sarapan : 10000
Airport Tax Soetta :150000
Makan KFC : 25000
Airport tax Polonia : 35000
Beli bikang ambon : 50000
pt2 taxi Soetta - Dpk : 50000
----------------------------------------------------+
373500
USD : Tour di Phi-Phi Island : 100 x 10000 = 1000000
Baht : Belanja di sevel : 128
Makan malam : 40
Patungan hostel 2D1N : 650
BTS bandara - Paya Thai : 45
BTS Paya Thai - Asok : 30
Beli nomor Thai : 49
Payung : 99
MRT ke Hua Lamphong : 27
pt2 taksi ke Grand Palace : 23 = 69:3
Tiket masuk Grand Palace : 500
Tiket masuk Wat Pho : 100
Juice delima : 20 = 40:2
Top up pulsa telepon : 100
Taksi ke Hua Lamphong : 23 = 70:3
MRT ke sukhumvit : 27
Jajan : 10
Pad Thai/Hoythok : 30
Ngeprint tiket hostel : 33 = 100: 3
BTS Asok - Nat. Museum : 31
Beli suvernir : 326
Jajan : 29
BTS Nat. Museum - Victory Monumen : 31
Taksi Victory Monument - Sai Thai Mai terminal : 43 = 130:3
Makan dan minum di sevel : 67
Makan di Krabi (sevel) : 29
Hostel di Krabi : 360 = 1080 : 3
Beli es krim : 23 = 69 : 2
Makan ayam goreng + nasi : 40
Suvernir : 66
Makan di Hatyai : 40
Beli coklat : 81
Pad Thai/Hoythok : 30
Ngeprint tiket hostel : 33 = 100: 3
BTS Asok - Nat. Museum : 31
Beli suvernir : 326
Jajan : 29
BTS Nat. Museum - Victory Monumen : 31
Taksi Victory Monument - Sai Thai Mai terminal : 43 = 130:3
Makan dan minum di sevel : 67
Makan di Krabi (sevel) : 29
Hostel di Krabi : 360 = 1080 : 3
Beli es krim : 23 = 69 : 2
Makan ayam goreng + nasi : 40
Suvernir : 66
Makan di Hatyai : 40
Beli coklat : 81
Biskuit Ovaltine : 30
-------------------------------------------------------------+
-------------------------------------------------------------+
3161 x 365 = 1153765
RM : Hostel 1N : 42 = 126 :3
Jajan : 3
Mie : 3.8
Juice : 1.5
Nasi lemak : 1.5
Teh tarik : 3
Chicken Rice : 5
Suvernir : 6.6
Bus ke bandara : 6.6
-----------------------------------------+
73 x 3000 = 219000
Total : 373500 + 1000000 + 1153765 + 219000 = 2746265
tiket pesawat 1800000
--------------------------------------------------------------------+
4546265
Selama 5 hari 4 malam dengan rute Jakarta - Bangkok - Krabi - Phi-Phi Island - Penang - Medan - Jakarta