Sahabat
adalah orang yang selalu ada saat kita membutuhkan. Kalau diumpamakan, sahabat
itu seperti tempat sampah? Perumpaaan yang kotor? Ah...tidak juga. Tempat
sampahnya yang bersih dong, yang ada di dalam kamar dan berisi sampah-sampah
kering. Tetapi, tempat sampah yang kotor pun bisa, karena orang yang bisa kita
sebut sahabat belum tentu bersih bukan? Sebab yang dibutuhkan untuk menjadi
sahabat hanyalah ketulusan hati. Tulus menerima orang lain apa adanya, tanpa
melihat dirinya dan orang lain tersebut. Sama seperti tempat sampah yang tulus
menerima segala sesuatu yang kita masukkan ke dalamnya, tanpa protes. Setelah
membuang sampah, rumah kita pun bersih. Begitu juga sahabat. Setelah kita
selesai menumpahkan segala curahan hati, rasanya lega. Jadi, bukan perumpamaan
yang salah kan?
“Aaaahhhh....selesai
juga nulis di blognya. Tidur dulu ah, packing
barangnya besok aja, masih ada waktu ini.” Aku menggeliatkan tubuh,
menggerakkan badan yang dari tadi
terpekur diam di depan laptop.
Baru
saja hendak naik ke tempat tidur, handphone
ku berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata dari Nana, sahabatku.
Belum Na, besok aja, udah lima watt
mata gue.
Parah lo. Besok mana sempet.
Pesawat berangkat jam 6 loh, nyampe bandara kan min jam 5. Lo kan naik DAMRI
yang jam 3, mau bangun jam berapa untuk packing???
Hehehe...bener juga ya Na. Ya udah
deh, gue packing dulu. Makaasih ya udah diingetin.
Ok. Tiket pesawat jangan lupa dan
jangan ditaro di tas backpack.
Iya Ibu Nana yang cantik. Lagian,
ini kan bukan pertama kalinya gue pergi.
Sekadar mengingatkan, kan lo sering
lupa. Pokoknya, kalau sampai lupa, gue kutuk lo jadi kodok. Pisss
Akhirnya
perjalanan aku bersama Nana terwujud. Meskipun kita bersahabat, tapi untuk
bertemu langsung susah sekali. Kesibukan selalu memisahkan kita. Untung
teknologi komunikasi informasi sudah maju sehingga mendekatkan kita. Namun,
tetap saja, bertemu secara langsung lebih mantap.
Demi
melepas kangen, kami pun cuti sejenak dari kesibukan masing-masing dan
merencanakan liburan kali ini. Pantai menjadi pilihan kami berdua karena kami
suka suasana pantai dan lautan. Memandang laut, menikmati deru ombak dan semilir
angin pantai saja sudah membuat kami puas.
Sebenarnya ada dua pilihan, ke Timur Indonesia atau ke Sumatra,
sebab kami belum pernah ke dua tempat tersebut. Namun, pilihan jatuh ke Timur
Indonesia, tepatnya ke Larantuka, Flores. Kami memilih ini karena waktu pelesir
kami bertepatan dengan hari raya Paskah dan di sana, Paskah dirayakan secara
meriah. Tradisi itu bernama Semana Santa.
Uniknya, keinginan untuk mengikuti Semana Santa di
Larantuka datang dari Nana yang merupakan seorang muslim. Alasannya, dia ingin
melihat dari dekat perarakan pemindahan patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan
Ana (Yesus). Sebenarnya keinginan ini tidak terlalu mengangetkanku sebagai
sahabatnya karena Nana memang senang dengan perayaan. Apapun yang berbau
perayaan terutama perayaan keagamaan, dia pasti akan datang. Dengan ikut serta
dalam perayaan tersebut, ia merasa bisa belajar banyak hal mengenai
keberagaman.
Krrrriiiiiiinnggggg
Bunyi
alarm membangunkanku. Mengumpulkan nyawa sebentar lalu segera menghubungi Nana.
Ternyata perjalanan ke bandara sangat lancar, jauh dari perkiraan.
“Oh...lo
yang manggil Na, gue pikir setan. “
Teplak!
Tabokan tangannya di bahuku membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Flores, sambut kami, sepasang sahabat yang
ingin menikmati keindahan alammu.
Kami terbang dari Jakarta menuju ke Kupang
terlebih dahulu sebab tidak ada penerbangan langsung ke Larantuka. Sebenarnya selain Kupang, ada pilihan untuk transit di
Maumere namun kami memilih Kupang karena harga pesawatnya lebih murah dan
langsung ada penerbangan dari Kupang ke Larantuka.
Saat tiba di Larantuka, uoooohhh…..kami terkesiap.
Birunya laut, hijaunya bukit-bukit di belakangnya, dan suasana Katolik yang
sangat terasa sekali. Banyak patung-patung yang melambangkan simbol keagamaan.
Vatikan pindah ke Indonesia, bedanya cuaca disini panas pake
banget.
Kami menginap di rumah penduduk yang tidak terlalu
jauh dari gereja dan laut. Saat tiba, kami langsung disambut tuan rumah yang
memang lagi di luar. Kelihatan banget ya muka turis. Selesai meletakkan barang
di kamar, kami segera bergabung dengan Mama, sebutan kami untuk ibu di Flores,
membunyikan aneka macam bebunyian. Seru! Setelah itu kami bertanya mengenai
prosesi besok. Ternyata, Nana yang sangat antusias. Bahkan dia sampai merekam.
Itu anak kalo niat emang pake banget.
Malamnya, kami tidak bisa tidur karena antusias
menyambut hari esok. Aku tahu besok pasti akan padat tapi ini berbeda dari
prosesi Paskah sebelumnya. Tiba-tiba Nana menyengolku.
Teplak!
“Kok
lo nabok gue sih Jill? Sakit tau!”
“Kan
tadi yang lo tadi bertanya, ini mimpi atau enggak. Ya gue jawab. Kalo sakit,
berarti lo enggak mimpi.”
“Sinting
ya lo.”
“Sinting-sinting
begini, gue sahabat lo kan?:, ujarku sambil tersenyum jahil.
“Iya-iya.
Lo sahabat gue di berbagai situasi. Lo orang yang bisa gue ajak gila bareng,
tertawa, menangis, semuanya. Lo ada ketika cowok gue pergi begitu aja.”
“Kalo
gila, lo sendiri aja, jangan ngajak-ngajak.”
Kami
pun tertawa sepuasnya, apalagi besok sudah masuk Tri Hari Suci dan semua tidak
boleh berisik.Langit malam cerah penuh bintang, hembusan angin
pantai yang kencang, dan ditemani sahabat. Lengkap sudah perjalanan ini.
Kami
segera tidur karena dari Kamis hingga Minggu, jadwal kami padat. Berbagai
prosesi yang cukup memakan tenaga akan kami ikuti. Namun itu semua bukan jadi
penghalang. Berlibur, apalagi bersama sahabat, tidak pernah ada lelahnya.
“Na,
next trip mau kemana?”, ujarku sebelum tidur.
“Belitung
yuk, pantainya bagus.”
“Yuukk.
Habis ini kita mulai nabung untuk ke Belitung.”
Tiba-tiba Nana bangun, mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di atasnya.
“Lo
nulis apa Na?”
“Kata
Mama, aku diminta siapin kertas yang berisi permohonan, lalu kertas itu
titip ke kamu atau Mama yang besok ikut misa. Kataya doanya akan terkabul. Titip ya”
“Terus
kamu minta apa?”
“Nih
lihat”
Semoga Jillian dan Nana bisa
mendapat tiket PP dan akomodasi gratis untuk ke liburan ke Belitung.
“Amiiiinnnn”,
seru kami berdua.
Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .