Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 13 Mei 2015

Sahabat Jalan

Sahabat adalah orang yang selalu ada saat kita membutuhkan. Kalau diumpamakan, sahabat itu seperti tempat sampah? Perumpaaan yang kotor? Ah...tidak juga. Tempat sampahnya yang bersih dong, yang ada di dalam kamar dan berisi sampah-sampah kering. Tetapi, tempat sampah yang kotor pun bisa, karena orang yang bisa kita sebut sahabat belum tentu bersih bukan? Sebab yang dibutuhkan untuk menjadi sahabat hanyalah ketulusan hati. Tulus menerima orang lain apa adanya, tanpa melihat dirinya dan orang lain tersebut. Sama seperti tempat sampah yang tulus menerima segala sesuatu yang kita masukkan ke dalamnya, tanpa protes. Setelah membuang sampah, rumah kita pun bersih. Begitu juga sahabat. Setelah kita selesai menumpahkan segala curahan hati, rasanya lega. Jadi, bukan perumpamaan yang salah kan?

“Aaaahhhh....selesai juga nulis di blognya. Tidur dulu ah, packing barangnya besok aja, masih ada waktu ini.” Aku menggeliatkan tubuh, menggerakkan badan yang dari tadi terpekur diam di depan laptop.

Baru saja hendak naik ke tempat tidur, handphone ku berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata dari Nana, sahabatku. 

Jill, lo udah packing belum?
Belum Na, besok aja, udah lima watt mata gue.
Parah lo. Besok mana sempet. Pesawat berangkat jam 6 loh, nyampe bandara kan min jam 5. Lo kan naik DAMRI yang jam 3, mau bangun jam berapa untuk packing???

Aku terdiam. Benar juga kata Nana.

Hehehe...bener juga ya Na. Ya udah deh, gue packing dulu. Makaasih ya udah diingetin.
Ok. Tiket pesawat jangan lupa dan jangan ditaro di tas backpack.
Iya Ibu Nana yang cantik. Lagian, ini kan bukan pertama kalinya gue pergi.
Sekadar mengingatkan, kan lo sering lupa. Pokoknya, kalau sampai lupa, gue kutuk lo jadi kodok. Pisss

Akhirnya perjalanan aku bersama Nana terwujud. Meskipun kita bersahabat, tapi untuk bertemu langsung susah sekali. Kesibukan selalu memisahkan kita. Untung teknologi komunikasi informasi sudah maju sehingga mendekatkan kita. Namun, tetap saja, bertemu secara langsung lebih mantap.

Demi melepas kangen, kami pun cuti sejenak dari kesibukan masing-masing dan merencanakan liburan kali ini. Pantai menjadi pilihan kami berdua karena kami suka suasana pantai dan lautan. Memandang laut, menikmati deru ombak dan semilir angin pantai saja sudah membuat kami puas. 

Melalui sosial media, kami bertemu untuk menyusun itinerary. Lelah fisik dan mental sehabis bekerja langsung sirna begitu kami bertemu untuk membahas itinerary. Setelah melalui diskusi bahkan perseteruan kecil, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Timur Indonesia.

Sebenarnya ada dua pilihan, ke Timur Indonesia atau ke Sumatra, sebab kami belum pernah ke dua tempat tersebut. Namun, pilihan jatuh ke Timur Indonesia, tepatnya ke Larantuka, Flores. Kami memilih ini karena waktu pelesir kami bertepatan dengan hari raya Paskah dan di sana, Paskah dirayakan secara meriah. Tradisi itu bernama Semana Santa.

Uniknya, keinginan untuk mengikuti Semana Santa di Larantuka datang dari Nana yang merupakan seorang muslim. Alasannya, dia ingin melihat dari dekat perarakan pemindahan patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Yesus). Sebenarnya keinginan ini tidak terlalu mengangetkanku sebagai sahabatnya karena Nana memang senang dengan perayaan. Apapun yang berbau perayaan terutama perayaan keagamaan, dia pasti akan datang. Dengan ikut serta dalam perayaan tersebut, ia merasa bisa belajar banyak hal mengenai keberagaman.

Krrrriiiiiiinnggggg

Bunyi alarm membangunkanku. Mengumpulkan nyawa sebentar lalu segera menghubungi Nana. Ternyata perjalanan ke bandara sangat lancar, jauh dari perkiraan. 

Aku tiba di bandara sekitar pukul 4.00. Masih sepi. Aku celingak-celinguk mencari Nana. Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil sayup-sayup. Errr...bukan setan kan. Deg-degan, takut. 

“Jill!! Gue panggil-panggil kok lo malah bengong?”
“Oh...lo yang manggil Na, gue pikir setan. “
Teplak! Tabokan tangannya di bahuku membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Flores, sambut kami, sepasang sahabat yang ingin menikmati keindahan alammu.

 Kami terbang dari Jakarta menuju ke Kupang terlebih dahulu sebab tidak ada penerbangan langsung ke Larantuka. Sebenarnya selain Kupang, ada pilihan untuk transit di Maumere namun kami memilih Kupang karena harga pesawatnya lebih murah dan langsung ada penerbangan dari Kupang ke Larantuka. 

Tiba di Bandara El Tari, Kupang, kami menunggu sebentar lalu beralih ke pesawat yang menuju Larantuka. Tidak berapa lama, kami pun tiba di Bandara Gewanyantana. Kesan pertama saat tiba adalah bandaranya kecil tapi asri. Selanjutnya, kami segera naik ojek menuju tempat penginapan di Larantuka.
Saat tiba di Larantuka, uoooohhh…..kami terkesiap. Birunya laut, hijaunya bukit-bukit di belakangnya, dan suasana Katolik yang sangat terasa sekali. Banyak patung-patung yang melambangkan simbol keagamaan. Vatikan pindah ke Indonesia, bedanya cuaca disini panas pake banget.

Kami tiba di Larantuka hari Rabu pagi. Kami memang sengaja datang sehari sebelum prosesi paskah agar bisa istirahat, mengenal keadaan sekitar, dan bisa merasakan hari Rabu Trewa atau Rabu Terbelenggu. Ini adalah hari sebelum memasuki Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci). Warga lokal membuat bunyi-bunyian dari peralatan apa saja untuk memberi tanda berduka menjelang hari kematian Yesus. Dan memang saat tiba, kita langsung mendengar aneka macam bebunyian. Awalnya kita kaget, bahkan agak takut, tapi setelah tukang ojek yang kami tumpangi menjelaskan, langsung sirna rasa takut itu.

Kami menginap di rumah penduduk yang tidak terlalu jauh dari gereja dan laut. Saat tiba, kami langsung disambut tuan rumah yang memang lagi di luar. Kelihatan banget ya muka turis. Selesai meletakkan barang di kamar, kami segera bergabung dengan Mama, sebutan kami untuk ibu di Flores, membunyikan aneka macam bebunyian. Seru! Setelah itu kami bertanya mengenai prosesi besok. Ternyata, Nana yang sangat antusias. Bahkan dia sampai merekam. Itu anak kalo niat emang pake banget.

Malamnya, kami tidak bisa tidur karena antusias menyambut hari esok. Aku tahu besok pasti akan padat tapi ini berbeda dari prosesi Paskah sebelumnya. Tiba-tiba Nana menyengolku. 

“Jill, gue masih enggak percaya kita udah di Flores. Mimpi enggak sih ini?”
Teplak!
“Kok lo nabok gue sih Jill? Sakit tau!”
“Kan tadi yang lo tadi bertanya, ini mimpi atau enggak. Ya gue jawab. Kalo sakit, berarti lo enggak mimpi.”
“Sinting ya lo.”
“Sinting-sinting begini, gue sahabat lo kan?:, ujarku sambil tersenyum jahil.
“Iya-iya. Lo sahabat gue di berbagai situasi. Lo orang yang bisa gue ajak gila bareng, tertawa, menangis, semuanya. Lo ada ketika cowok gue pergi begitu aja.”
“Kalo gila, lo sendiri aja, jangan ngajak-ngajak.”

Kami pun tertawa sepuasnya, apalagi besok sudah masuk Tri Hari Suci dan semua tidak boleh berisik.Langit malam cerah penuh bintang, hembusan angin pantai yang kencang, dan ditemani sahabat. Lengkap sudah perjalanan ini.

Kami segera tidur karena dari Kamis hingga Minggu, jadwal kami padat. Berbagai prosesi yang cukup memakan tenaga akan kami ikuti. Namun itu semua bukan jadi penghalang. Berlibur, apalagi bersama sahabat, tidak pernah ada lelahnya. 

Kalau kamu mau tahu seperti apa kualitas sesorang, bawalah ia dalam perjalanan lebih dari tiga hari. Maka, kalian akan saling mengenal, sebab di dalam suatu perjalanan, berbagai keadaan yang tidak kita duga akan datang. Disitulah suatu hubungan diuji. Apakah dia layak kita anggap sebagai sahabat, yang siap menemani kita disaat suka duka, atau hanya figuran yang numpang lewat dalam cerita hidup kita. 

Nana dan aku sudah teruji dalam berbagai perjalalanan. Sebenarnya, kita mempunyai sikap yang bertolak belakang. Nana yang rapi jali dan aku yang cuek bebek. Sikap kami ini, pada awal perjalanan, sempat menimbulkan ketegangan. Nana ingin membawa semua peralatannya yang demi Tuhan, banyak dan bikin ribet. Kita harus bertengkar dulu, untuk mengurangi barang bawaaan dia agar tinggal satu ransel saja. Tapi sekali lagi, itu tidak menghalangi kami untuk tetap bersahabat. Perbedaan bukanlah penghalang untuk bersahabat. Perbedaan justru melengkapi kami.

“Na, next trip mau kemana?”, ujarku sebelum tidur.
“Belitung yuk, pantainya bagus.”
“Yuukk. Habis ini kita mulai nabung untuk ke Belitung.”
Tiba-tiba Nana bangun, mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di atasnya.
“Lo nulis apa Na?”
“Kata Mama, aku diminta siapin kertas yang berisi permohonan, lalu kertas itu titip ke kamu atau Mama yang besok ikut misa. Kataya doanya akan terkabul. Titip ya”
“Terus kamu minta apa?”
“Nih lihat”
Semoga Jillian dan Nana bisa mendapat tiket PP dan akomodasi gratis untuk ke liburan ke Belitung.
“Amiiiinnnn”, seru kami berdua.

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dannulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar